Oktober 30, 2010

Ekskursi ke Bendungan Ir. H. Djuanda [part 3]

Bangunan Air di bendungan Ir. H. Djuanda

Di waduk jatiluhur, terdapat beberapa bangunan air memiliki fungsi tersendiri antara lain :

1. Bendungan Utama (main dam)

Bendungan utama menggunakan jenis urugan batu (rockfill) dengan inti tanah liat miring (inclined clay core). Inti miring ini disebabkan karena jumlah bahan yang jarang dan fungsinya sebagai pembias rembesan agar tidak menyebabkan piping. Piping adalah istilah untuk kegagalan yang disebabkan oleh rembesan air waduk yang menggerus urugan tanah pada bendung. Inti tanah liat miring membuat preatik line jatuh pada kaki bendungan. Hal inilah yang mencegah terjadinya piping. Namun, inti tanah liat miring ini juga menimbulkan dampak negatif berupa retakan memanjang meski tidak terlalu menjadi masalah. Bendung utama memiliki tinggi 100 m dan panjang 1220 m. Elevasi puncak bendungan berada pada 114.5 m di atas permukaan air laut.

2. Menara Pelimpah

Menara ini tipe morning glory, berfungsi sebagai bangunan pelimpah, pembangkit tenaga listrik dan pengaturan air ke bagian hilir. Menara pelimpah berbentuk silinder dengan diameter 90 m dan tinggi 110 m. Elevasi puncak pelimpah berada pada 107 m di atas permukaan air laut dengan kapasitas pelimpah mencapai 3000 m3 per detik. Di dasar menara terdapat, 2 buah hollow jet yang berfungsi untuk mencegah air masuk ke menara melalui puncak pelimpah. Kapasitas hollow jet masing-masing 270 m3 per detik. Di bawah hollow jet, terdapat enam buah turbin berdaya masing-masing 31 MW untuk menghasilkan listrik. Penggunaanya tergantung kondisi turbin, kadang digunakan bersama-sama maupun sebagian.

3. Tanggul-tanggul Penutup (saddle dam)

Tanggul penutup berfungsi untuk membatasi air agar tidak keluar dari waduk. Sekaligus berfungsi sebagai pelimpah pembantu jika terjadi kegagalan di waduk saguling dan/atau cirata. Itu untuk menghindari overtoping akibat kelebihan debit air. Di waduk jatiluhur terdapat empat buah tanggul penutup yaitu :

  • - Pasir Gombong Barat, sepanjang 1,950 m
  • - Pasir Gombong Timur, sepanjang 400 m
  • - Ciganea, sepanjang 330 m, dan
  • - Ubrug, sepanjang 550 m, yang dilengkapi dengan pelimpah pembantu/darurat (auxiliary/emergency spillway) berkapasitas 2000 m3 per detik. Namun, pelimpah pembantu ini tidak berfungsi karena keempat pintunya ditutup oleh beton bertulang. Itu disebabkan karena minimnya dana untuk membeli pintu yang harganya mahal.

4. Kolam Waduk

Kolam waduk memiliki luas ± 83 km2 pada TMA +107 dpl dan memiliki kapasitas tampungan 3 milyar m3. Seiring waktu berjalan, waduk jatiluhur mengalami pengendapan. Hingga detik ini, terhitung bahwa jumlah endapan sebesar 500 juta m3. Sehingga tersisa 2.5 milyar m3.

5. Cover Dam

Cover dam berfungsi untuk mengalihkan sementara aliran sungai. Ini didirikan sebelum pembangunan bendungan Djuanda dimulai. Saat aliran dimana bendungan Djuanda akan didirikan telah kering maka saat itu pula bendungan mulai dibangun. Sekarang, cover dam tidak terlihat lagi karena tertutup oleh elevasi air waduk. Letaknya persis di sebelah menara ke arah udik.

Melakukan Kebaikan : Niat Ikhlas dan Jangan Mengharapkan Imbalan

Salah satu kegiatan Temu Etos Nasional (TENs) 2008 adalah operasi bersih sungai ciliwung. Keadaan ciliwung kini sangat memprihatinkan. Badan sungai yang menyempit, kedalaman yang dangkal, banyak sampah, bahkan penyebab banjir Jakarta yan kini hampir setiap tahun, tidak lain merupakan akibat ketidakpedulian masyarakat contohnya kebiasaan membuang sampah ke sungai. Masalah itu menjadi renungan bagi kami. Akhirnya, muncul ide untuk membuat Sekolah Alam Ciliwung (SAC). Program SAC ditujukan untuk anak Sekolah Dasar. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sungai ciliwung sejak usia dini.

Program SAC kami daftarkan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) DIKTI. Awalnya kami berlima ragu tetapi akhirnya kami menguatkan niat untuk ikut serta demi perbaikan lingkungan dan ternyata program kami lolos seleksi pendanaan. Uang sekitar 5 juta-an kami atur demi keberlangsungan program SAC. Kami bekerja sama dengan Komunitas Ciliwung Condet (KCC) yang beralamat di jalan Munggang 6, Condet. SAC mendapat sambutan positif dari KCC dan warga setempat. Mereka mengikutsertakan anaknya ke dalam program ini. Kami menghadirkan dosen Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, pejabat pemerintahan bidang lingkungan (Kementrian Lingkungan Hidup-red) untuk memberikan materi serta berdiskusi. Peserta sangat antusias mengikutinya karena kami tidak hanya memberikan materi seperti di kelas tetapi juga menyelingi dengan games, outbond, praktek, menonton film lingkungan. Hasilnya luar biasa, mereka sangat peduli dengan lingkungan khususnya sungai ciliwung. Salah satunya terlihat saat pelatihan dimana mereka saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Selama kurang lebih empat bulan program ini berjalan. Segenap usaha penuh perjuangan karena kami berlima termasuk aktivis kampus, diiringi niat yang tulus tanpa mengharapkan balasan, bahkan sering mengorbankan tenaga, waktu, pikiran maupun harta, apa yang kami lakukan berbuah manis yaitu kami berhak maju ke putaran final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2009 di Malang. Sebelum itu, kami melewati proses monitoring evaluation yang cukup menguras tenaga dan waktu karena sampai harus bergadang dua hari. Kami sangat gembira kali pertama mendengar kabar ini bahkan awalnya kami tidak percaya tetapi setelah melihat sendiri pengumumannya kami baru percaya. Luar biasa! Sungguh kami tidak menduga sama sekali.

Di PIMNAS XXII, kami mendapatkan kejutan kembali. Kami memperoleh medali perunggu untuk kategori PKM-Pengabdian Masyarakat. Meskipun, persiapannya sangat menekan dan terlihat pas-pasan. Namun, kami cukup berbangga, dengan niat ikhlas, usaha keras dan doa, kami mampu membuktikan bahwa kami bisa berprestasi walaupun kami adalah aktivis kampus! Saat di PIMNAS, salah seorang anggota kelompok berujar, “bener-bener dahsyat ini….saya ngga nyangka bisa sampai sejauh ini”. Perjalanan panjang ini, penuh suka, penuh duka, penuh makna, kami simpulkan menjadi satu kalimat yang semoga menginspirasi teman-teman, niat ikhlas untuk berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan diiringi usaha pantang menyerah, ikhtiar dan doa.

November 09, 2009

Ekskursi ke Bendungan Ir. H. Djuanda [part 2]

Bendungan Ir. H. Djuanda
Bendungan Ir. H. Djuanda atau lebih dikenal dengan sebutan waduk jatiluhur merupakan waduk yang dibuat berdasarkan potensi debit aliran sungai citarum yang mencapai rata-rata 5.5 m3 milyar per tahun dengan debit rata-rata tahunan 175 m3 per detik. Pembangunan bendungan ini dimulai pada tahun 1957 dan mulai dioperasikan pada tahun 1967. Sejak bendungan selesai, diperlukan waktu 3 tahun agar debit air di dalam waduk stabil dan bisa dimanfaatkan. Awalnya, ide bendungan berasala dari Prof. Dr. W.J. Van Blommestein (1948) yang dikaji ulang oleh Ir. Schravendijk dan Ir. Abdullah Angudi pada tahun 1950.
Saat ini, bendungan Djuanda merupakan sebuah cascade yaitu serangkaian bendungan yang disusun seri untuk aliran sungai Citarum. Rangkaiannya adalah bendungan Saguling-bendungan Cirata-bendungan Djuanda. Bendungan Djuanda memiliki menara pelimpah tipe morning glory. Menara ini merupakan satu-satunya pelimpah di dunia yang berfungsi juga sebagai pembangkit listrik. Menaranya terbuat dari cincin beton yang dicor dari atas ke bawah. Sedangkan bagian pinggir menara menggunakan cincin beton. Di dalam morning glory terdapat unit pembangkit listrik antara lain :
- 6 buah pintu air yang berfungsi mengalirkan air ke turbin berdaya masing-masing 31 Mega Watt.
- 2 buah hollow jet dengan 5% bukaan dan berkapasitas 270 m3 per detik.
Air yang berasal dari waduk diusahakan masuk ke turbin terlebih dahulu untuk dirubah menjadi energi listrik. Ada enam buah turbin, 3 diantaranya terletak di terowongan kanan, 3 lainnya di terowongan kiri. Terowongan terbentuk seperti leher angsa yang bagian hulunya lebih tinggi.

Ekskursi ke Bendungan Ir. H. Djuanda [part 1]


Sabtu, 31 Oktober 2009, kami –mahasiswa departemen teknik sipil angkatan 2007-- bersama dengan beberapa dosen matakuliah Perancangan Infrastruktur Keairan melaksanakan ekskursi ke bendungan Ir. H. Djuanda (Jatiluhur) dan bendung Curug. Kami berkumpul di halte teknik, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, sejak pukul 06.30 WIB. Rencana pemberangkatan yang awalnya pukul 06.30 WIB tidak bisa terlaksana karena masih banyak mahasiswa yang belum hadir. Suatu hal yang memiriskan hati. Betapa tidak, generasi penerus bangsa tidak melatih dirinya untuk menjadi seorang yang disiplin. Apa jadinya bangsa ini? Kami bertolak dari UI pukul 07.10 WIB. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 180 menit. Sehingga, kami tiba di waduk jatiluhur, Purwakarta, pukul 11 kurang. Kami langsung menuju kantor pengelola waduk jatiluhur yang jaraknya sekitar 2 km dari waduk dan disambut oleh bapak pangat, bapak jainal dkk.
Begitu sampai, kami langsung dibimbing masuk ke sebuah ruangan besar. Disitu, bapak pangat mempresentasikan mengenai waduk jatiluhur mulai dari sejarahnya hingga pengelolaannya dan dilanjutkan tanya-jawab. Di akhir presentasi, pak herr menjelaskan ulang tentang waduk jatiluhur karena melihat kami yang masih belum paham. Diawali dengan filosofi waduk hingga struktur bendungan Ir. H. Djuanda.
Pukul 12 kurang, kami melanjutkan perjalanan ke bendungan. Cuacanya sangat panas. Kami takjub kali pertama melihat bendungan Ir. H. Djuanda. Apalagi saat melihat menara pelimpah yang ukuran diameternya 90 m dan tingginya lebih dari 100 m. Kami melihat bendungan urugan tanah yang begitu besar, membentang sepanjang 1.2 km. Ketakjuban kami semakin menjadi saat kami melihat menara pelimpah berbentuk silinder tegak dari dekat, bahkan langsung berada diatasnya. Dari puncak bendungan kami melewati jembatan besi menuju ke menara pelimpah. Kami mengelilingi menara pelimpah. Terdapat dua alat pemeliharaan menara. Angkatan kami merupakan angkatan yang tidak beruntung karena tidak bisa melihat turbin penghasil listrik secara langsung karena turbin yang berjumlah 6 buah sedang menjalani perawatan. Turbin-turbin tersebut terletak di dasar bendungan di bawah menara pelimpah.
Perjalanan dilanjutkan menuju bendung utama curug yang terletak di sebelah utara waduk jatiluhur tepatnya di kosambi satu, Purwakarta, Tempat inilah yang membagi debit air ke tiga wilayah yaitu tarum barat (Jakarta, bekasi), tarum utara (pantai utara), tarum timur. Saat tiba disana, kami langsung disambut oleh pihak pengelola. Mereka menjelaskan tentang skema pengelolaan bendung curug. Tak puas kami dijelaskan, kami langsung turun kelapangan. Pertama kami melihat saluran tarum timur. Selanjutnya kami melihat pintu air yang berjumlah 7 dan mini hidro yang sedang menjalankan perawatan. Kami pun diajak untuk melihat pompa hidrolik yang ada di saluran tarum barat. Uniknya, jumlah pompa hidrolik ada 17 buah. Usut punya usut, angka 17 dikaitkan dengan tanggal kelahiran negara Indonesia.
Gerimis kembali turun pertanda akan segera hujan setelah sebelumnya mengguyur kabupaten purwakarta. Kami kembali pulang ke depok kurang lebih pukul 17.00 WIB. Sampai di FTUI pukul 20.00 WIB. Hari yang sangat luar biasa, dapat menimba ilmu dengan langsung turun ke lapangan.

Oktober 09, 2009

Sekolah Alam Ciliwung [part 3]

Minggu, 26 april 2009, di Sekolah Alam Ciliwung diadakan kegiatan untuk memperingati hari bumi sedunia yang jatuh pada tanggal 22 april. Ada sekitar 42 anak yang hadir pada kegiatan ini. Kegiatannya cukup sederhana, kami mengajak anak-anak untuk merenungi kembali apa yang terjadi dengan bumi kita sekarang ini, ceilah, mentang-mentang temanya hari bumi. Kami memulai diskusi dengan memberika wacana apa itu bumi? Untuk apa kita tinggal disini? Apa yang seharusnya kita lakukan untuk memelihara bumi? Hingga kami membawa diskusi ke arah fungsi tanah bagi tumbuhan. Kami membagi mereka menjadi beberapa kelompok yang dipegang oleh dua/satu orang fasilitator. Diskusi cukup menarik dan atraktif. Diskusi tidak hanya yang bersifat serius tetapi diselingi lelucon. Bahkan, ada satu kelompok yang sampai terbahak-bahak menahan ketawa akibat lelucon.
Di akhir kegiatan, kami mengajak anak-anak untuk menonton film lagi. Film tentang keadaan bumi kita sekarang. Alur film dibuat agar anak-anak merenungi keadaan bumi kita sekarang hingga akhirnya mereka bisa tergugah untuk senantiasa memelihara bumi. Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Itu yang ingin kami tanamkan. Sebelum berpisah, kami berpesan kepada mereka untuk mengingat-ingat materi yang telah kami sampaikan.
Sebenarnya, di pagi hari, ada pula kegiatan peringatan hari bumi, yang terlibat adalah anak-anak panti asuhan. Pihak panti menginginkan agar anak-anak asuhannya mendapatkan informasi mengenai lingkungan sekaligus memperingati hari bumi sedunia. Ada sekitar 40-an anak yang ikut peringatan tersebut. Kegiatan diawali dengan diskusi bersama pak kodir, ketua komunitas ciliwung condet. Cukup aktif diskusi yang terjadi antara peserta dan pak kodir. Selanjutnya, mereka di bawa ke bawah (dekat sungai ciliwung) untuk melihat-lihat keadaan sekitar. Dan kegiatan diteruskan dengan games. Semuanya terlihat bahagia, tidak satupun yang terlihat bersedih. Kegiatan ini diakhiri pukul 12 siang sebelum kegiatan Sekolah Alam Ciliwung.

Juli 12, 2009

Sekolah Alam Ciliwung [part 2]

Tanggal 19 April 2009, kami melakukan pemutaran film lingkungan. Film yang kami tampilkan lebih kami tekankan pada masalah pencemaran. Kami mengajak peserta untuk memahami tentang pencemaran darat, air dan udara.
Pencemaran darat, hampir sebagian besar disebabkan oleh sampah. Sampah yang tidak terolah dengan baik menyebabkan tanah tercemar. Pencemaran air juga disebabkan oleh sampah. Sampah dibuang begitu saja ke sungai sehingga yang terjadi adalah penumpukan sampah di sejumlah tempat. Tumpukan sampah di sungai menyebabkan air sungai menjadi kotor dan berbau. Limbah rumah tangga maupun industri juga menjadi salah satu penyebab pencemaran air. Selain sungai, waduk/situ juga menjadi salah satu objek pencemaran air. Pencemaran udara disebabkan oleh kendaraan bermotor, industri, maupun rumah tangga. Jadi, sebenarnya subjek pencemaran adalah manusia itu sendiri. Kami menekankan kepada peserta untuk meminimalisir penyebab pencemaran lingkungan. Salah satunya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Ini adalah hal sederhana yang berdampak positif dikemudian hari jika dilakukan secara konsisten. Dan tugas kami adalah senantiasa mengingatkan mereka. Kami juga mengajarkan tentang pembuatan kompos untuk mengurangi sampah-sampah rumah tangga. Namun, tidak akan dibahas sekarang.
Terakhir, kami mengajak peserta untuk berdiskusi mengenai film yang baru saja ditonton. Awalnya mereka terlihat malu-malu untuk mengemukakan pendapatnya. Namun, akhirnya mereka terbiasa juga. Kami juga meminta peserta untuk menyimpulkan apa yang bisa kita ambil pada pelatihan hari itu. Hari itu, kami sangat senang karena peserta sangat antusias sekali dalam mengikuti pelatihan. Semoga semangat itu selalu tertanam dijiwa mereka hingga mereka dewasa.

April 15, 2009

Sekolah Alam Ciliwung [Part 1]

Sabtu, 11 april 2009, saya dan kelompok PKM ada hajatan besar yaitu pembukaan Sekolah Alam Ciliwung (SAC). Sekolah Alam ini bertajuk "Pelatihan Relawan Cilik Peduli Sungai Ciliwung". Sekolah Alam ini bertempat di Condet, tepatnya di Wahana Komunitas Ciliwung Condet, kelurahan Bale Kambang. Kami bekerja sama dengan Komunitas Ciliwung Condet untuk mengadakan Sekolah Alam ini. Saya juga meminta bantuan dari rekan-rekan mahasiswa Universitas Indonesia untuk menjadi fasilitator di Sekolah Alam Ciliwung ini. Ide awal dari Sekolah Alam ini muncul ketika saya dan beberapa teman saya yang mengikuti program "Operasi Bersih Sungai Ciliwung" tahun 2008 yang diadakan oleh Komunitas Beastudi Etos – Dompet Dhuafa Republika. Dari kegiatan itu, saya berdiskusi dengan teman saya. Dari diskusi tersebut, kami menyimpulkan bahwa sudah saatnya Sungai Ciliwung diberikan perhatian yang lebih mengingat kondisinya sekarang ini sudah sangat-sangat memperihatinkan. Dosen mata kuliah Ilmu Lingkungan, Departemen Teknik Sipil Universitas Indonesia, Firdaus Ali, PhD. mengatakan bahwa dari 13 sungai yang melintasi Jakarta, hanya ada 1 yang airnya bisa digunakan sebagai bahan baku air PDAM yaitu sungai krukut, itu pun kondisinya juga sudah memprihatinkan. Hingga akhirnya muncul ide untuk membuat Sekolah Alam Ciliwung.

Dua minggu sebelum pembukaan, kami sudah mulai menyiapkan segala sesuatunya. Dan hingga H-1, semua persiapan telah selesai disiapkan, tinggal menunggu saja hasilnya. Acara pembukaan Sekolah Alam dimulai dengan sambutan Ketua Tim PKM, Ma'ruffi Kurnia, dilanjutkan dengan sambutan dari dosen pembimbing PKM, Abdurrakhman, M.Hum, Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan, Bapak Panggung, dan Ketua Komunitas Ciliwung Condet, Bapak Kodir. Berikutnya adalah pemberian materi tentang lingkungan oleh Firdaus Ali, PhD. Materi yang disampaikan menarik perhatian peserta dan para undangan. Beliau menyampaikan kondisi lingkungan global saat ini sudah sangat memprihatinkan. Disamping itu, beliau juga menyampaikan materi tentang sungai. Acara berikutnya ialah nonton film bareng. Peserta SAC sangat riang dengan acara tersebut. Peserta juga diminta untuk memberikan feed back mengenai film yang baru saja diputar. Dan mereka tidak segan-segan untuk mengemukakan pendapatnya, meskipun pada awalnya mereka malu-malu. Acara juga diselingin dengan games yang diisi oleh panitia. Semua peserta terlihat senang dan bahagia. Acara ditutup sekitar pukul 4 lewat.

Saat peserta sedang menonton film, panitia juga mengadakan diskusi dengan bapak Firdaus Ali, bapak panggung, bapak kodir serta para tamu undangan dan tentu saja rekan-rekan mahasiswa. Diskusi diawali oleh pak kodir. Beliau menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sungai ciliwung saat ini. Berbeda sekali dengan keadaan era 90-an. Diskusi beralih ke wacana Sekolah Alam Ciliwung. Pak kodir memulainya dengan menceritakan kronologis dari awal hingga pembukaan Sekolah Alam Ciliwung ini. Kemudian, pak Firdaus Ali menyampaikan dukungannya terhadap Sekolah Alam ini. Beliau optimis dengan adanya Sekolah Alam ini, setidaknya bisa merubah pandangan masyarakat tentang sungai ciliwung. Tentu saja konsep Sekolah Alamnya harus dimatangkan dulu. Ada empat poin penting yang beliau sampaikan terkait Sekolah Alam ini :
1. Organisasi
Sebelum menjalankan sekolah alam ini, kita harus mengatur segala sesuatunya dengan rapi supaya dapat mempermudah kinerja kita di masa yang akan datang. Perlu ada struktur organisasi yang jelas. Alur kerja juga harus dibuat dengan teratur, supaya ada kesinergisan. Yang paling penting adalah komitmen dari masing-masing pihak yang terlibat didalamnya. Komitmen memegang peranan penting dalam sebuah pekerjaan. Orang yang berkomitmen setengah-setengah akan menghambat rekan kerja se-timnya. Sehingga, tidak akan tercapai tujuannya. Inilah yang harus dipahami masing-masing pihak bahwa sesungguhnya dalam suatu pekerjaan diperlukan komitmen yang menyeluruh karena hal itu akan membawa dampak positif bagi kinerjanya dimanapun dia berada.
2. Konsep
Poin ini juga memegang peranan penting. Sebuah kegiatan dengan konsep lebih bagus tentu lebih menjual dibanding kegiatan yang konsepnya dangkal. Konsep ini harus dikaji secara mendalam untuk mendapatkan konsep yang pas. Bertanya menjadi hal yang diwajibkan dalam membuat konsep. Dari situ akan ada transfer ilmu yang bermanfaat bahkan mungkin akan ada ide yang lebih bagus untuk diterapkan.
3. Komunikasi
Organisasi yang bagus dan konsep yang cemerlang tidak akan ada gunanya jika kita tidak bisa mengkomunikasikannya ke orang lain. Percuma saja. Untuk itu, sangat diperlukan kemampuan dalam berkomunikasi. Dengan mengkomunikasikan ke orang lain, minimal orang lain mengetahui kegiatan apa yang akan kita laksanakan. Sangat beruntung jika orang yang kita beritahu mendukung kita. Atau bahkan ada yang bersedia untuk memberikan sumbangan demi terlaksananya kegiatan tersebut. Ya, intinya komunikasi.
4. Kaderisasi
Jangan mengatakan bahwa hal yang satu ini tidak penting. Semua orang yang pernah berorganisasi tahu akan hal ini, kaderisasi. Hal ini merupakan hal penting yang harus tetap ada prosesnya. Jika tidak, apa yang kita lakukan selama ini akan sia-sia. Tentu kita tidak menginginkan hal itu bukan? Kaderisasi ini bertujuan untuk mencari generasi yang berkompeten untuk meneruskan perjuangan para pendahulunya. Tanpa ini, organisasi apapun tidak akan dapat mencapai tujuan utamanya. Kebanyakan orang juga gagal dalam masalah kaderisasi. Dia lupa mengkader orang untuk melanjutkan perjuangannya. Dengan begitu, generasinya terputus dan apa yang telah dilakukan selama ini sia-sia belaka.
Dari diskusi panjang lebar tentang sekolah alam tersebut, dapat disimpulkan bahwa permasalahan lingkungan harus kita hadapi dan selesaikan secara bersama-sama. Dan ini harus kita laksanakan saat ini juga, jika tidak ini akan merugikan kita dan anak cucu kita semua.