Maret 13, 2013
Maret 07, 2013
Cinta itu harmonisasi
Ku jawab, "Cinta itu harmonisasi".
Saling melengkapi, saling berbagi, saling menguatkan.
karena sejatinya tak ada yang sempurna.
Ibarat sebuah rumah yang terdiri dari : pondasi, kolom, balok, dinding, pintu, jendela, dan atap
Ku katakan, "Merekalah Cinta".
Atap rela kedinginan dan kepanasan demi yang lain. Kedinginan karena angin, hujan. Kepanasan karena terik matahari. Tapi atap tak bisa sendiri, ia butuh penopang. Siapa yang menopang? Kolom, balok, dinding dan juga pondasi.
Kolom rela menopang beban lebih karena ia tersusun oleh besi dan campuran beton. Tak sampai disitu, dinding membantu menahan beban. Istilah kerennya, distribusi beban. Kolom pun tak bekerja sendiri untuk melindungi dinding. Balok ikut membantunya agar semakin rigid dan kuat.
Pintu & Jendela tak mau ketinggalan. Mereka lah pengatur tata udara dan tata cahaya bangunan. Agar rumah tak menjadi lembab dan berjamur.
Pondasi adalah benteng. Benteng untuk menjaga keutuhan rumah. Tanpanya, yang lain bisa menjadi retak, patah bahkan hancur berkeping-keping kala dilanda bencana.
Itulah Cinta, saudaraku.
Harmonisasi antar elemen.
Mereka rela, mereka ikhlas, tanpa berharap balasan.
April 02, 2012
abjad
alfa,beta,charlie,delta,echo,fanta,golf,hotel,india,juliet,kilo,london,mama,nancy,oscar,papa,q-beck,romeo,sierra,tango,ultra,victor,whisky,x-ray,yengki,zulu
sumber:
http://kanvaso.com/show.php?id=gafF
Maret 19, 2012
Tentang mereka yang berkebutuhan khusus dan keadilan Allah
Belakangan, saya merasa bahwa Allah tidaklah adil. Ia pilih kasih karena ada hamba-Nya yang diciptakan dalam keadaan tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa berkomunikasi, keterbelakangan mental, dll. Saya berfikir, dengan keterbatasan tersebut, mereka menjadi sulit untuk beraktifitas, sulit untuk diterima orang lain, dst. Ya terkadang memang demikian tapi terkadang juga tidak demikian. Sebagai contoh, Pak Soni, beliau adalah tuna netra, domisili di Jakarta Timur. Namun, kegiatannya hampir sama seperti yang lain misalnya bekerja, berorganisasi, advokasi hak-hak/kebutuhan tuna netra, berinteraksi dengan banyak pihak. Wow! amazing! Disini dugaan saya bahwa Allah tidak adil, terpatahkan. Meski dia sedikit kesulitan, dia tetap bisa kok. Dia juga berhasil menjalin pertemanan dengan banyak pihak untuk mengadvokasi kebutuhan para tuna netra. Dia juga bisa mengadakan pertemuan rutin para tuna netra (anggota PERTUNI Jakarta Timur) setiap bulan. Dia dan teman-teman menjalankannya dengan senang hati. Meskipun memang ada pahitnya juga karena pemerintah belum optimal untuk mengakomodasi mereka. Namun, disini saya jadi berfikir bahwa inilah seharusnya tugas kita sebagai muslim untuk saling membantu ["...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa..." QS. Al-Maidah : 2]. Mungkin ini hikmah keadilan yang ingin Allah tunjukkan kepada kita bahwa kita harus saling membantu dan menyayangi sesama. Ini juga semacam keadilan dalam bentuk cobaan bagi orang yang normal dan orang yang berkebutuhan khusus. Bagi orang yang normal, apakah tergerak hatinya untuk membantu dalam hal sekecil apapun misal membantu menyeberang jalan. Bagi yang berkebutuhan khusus, apakah bersabar dengan keadaannya dan tentu terus berusaha tanpa menyalahkan keadaannya. Disini tercipta sebuah interaksi yang positif. Jika keduanya lulus ujian artinya menjalankan hak dan kewajiban masing-masing, maka saya yakin Allah memberikan pahala bagi keduanya, InsyaAllah. Mari kita berusaha untuk memenuhi hak dan kewajiban kita yang dibebankan oleh Allah swt.
Sebagai penutup bahwa Allah Maha Adil. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Maret 17, 2012
Taubat
HR. Muslim 29/2758 dari Abu Hurairah r.a., "Aku mendengar Rasulullah bersabda, "sesungguhnya seorang hamba yang telah melakukan dosa, "---lalu berkata, "ya Tuhanku, aku telah berdosa,"---dan mungkin ia berkata, "aku telah berdosa, maka ampunilah aku, "---maka Tuhannya berkata, "Apakah kamu tahu, wahai hamba-Ku, bahwa hamba itu mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa lantaran dosa itu, dan Aku mengampuni hamba-Ku." Lalu ia tetap (berada dalam keadaan) sebagaimana yang dikehendaik Allah. Kemudian ia tertimpa dosa ---atau ia melakukan (perbuatan dosa)--- lalu berkata, "Wahai Tuhanku, aku telah berdosa---atau aku telah tertimpa dosa---lagi, maka ampunilah dosa tersebut, "Apakah kamu tahu, wahai hamba-Ku, bahwa hamba itu mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa lantaran dosa itu, dan Aku mengampuni hamba-Ku. Lalu ia tetap (berada dalam keadaan) sebagimana yang dikehendaki Allah. Kemudian ia melakukan dosa dan mungkin ia berkata, "Aku tertimpa dosa, "atau berkata, "Tuhanku, aku berdosa," atau berkata, "Aku melakukan (perbuatan) dosa lagi, maka ampunilah aku," maka Tuhan berkata, "Apakah kamu tahu, wahai hamba-Ku, bahwa hamba itu mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa lantaran dosa itu, dan Aku mengampuni hamba-Ku ---Aku mengampuni hamba-Ku tiga kali--- maka berbuatlah sekehendakmu." Hadits ini disetujui oleh Al Bukhari (7507).
Imam an-Nawawi berkata, "Perbuatan dosa jika diulang sebanyak seratus atau seribu kali, atau bahkan lebih, dan kemudian pelakunya bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka taubatnya diterima; kalaupun ia bertaubat seluruhnya dengan satu kali taubat (pada akhirnya), maka taubatnya sah." Dalilnya adalah hadits riwayat Muslim (46/2766), Bukhari (3470) dan Ibnu Majah (2622): Dari Abu Sa'id al-khurdi ra., ia berkata bahwa nabi bersabda, "Dulu, ada seseorang yang telah membunuh 99 orang. kemudian ia bertanya, siapa orang yang paling alim (berilmu) di atas bumi ini. kepadanya ditunjukkan seorang rahib (pendeta). Lalu ia mendatanginya seraya berkata bahwa dia telah membunuh 99 orang dan bertanya, apakah dia berhak bertaubat, sang pendeta menjawab, "tidak." Lalu ia membunuh pendeta itu, sehingga (jumlah orang yang dibunuhnya) genap menjadi 100. Kemudian ia bertanya, siapa orang yang paling alim (berilmu) di atas bumi ini. kepadanya ditunjukkan seorang rahib (pendeta). Lalu ia mendatanginya seraya berkata bahwa dia telah membunuh 100 orang dan bertanya, apakah dia berhak bertaubat. orang alim tersebut berkata, "Apa yang menjadi penghalang antara dirimu dan taubat?"
Sumber : Kenikmatan Taubat karya Syeikh Mutawalli Sya'rawi
Mei 25, 2011
Komunikasi Efektif : Aspek Penting dalam Sebuah Organisasi

Komunikasi merupakan aspek yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Apalagi kita sebagai makhluk sosial, dalam menjalani kehidupan sehari-hari pasti menyentuh komunikasi. Terlebih lagi bagi kita yang beroganisasi. Seperti judulnya, tulisan ini mencoba menyoroti komunikasi dalam suatu organisasi. Tulisan ini ditujukan untuk berbagi pemikiran.
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media). (Onong Cahyana Effendi)
Dalam organisasi, komunikasi selalu digunakan misalnya untuk memberitahu informasi terkini, menyampaikan pendapat atau sanggahan saat rapat, mengirimkan short message service berisi undangan rapat dan sebagainya. Baiklah, saya mencoba menarik benang merah, kaitan antara komunikasi efektif dengan pencapaian visi dan misi sebuah organisasi. Sebelumnya, saya mencoba mendefinisikan frase komunikasi efektif yang ada di otak saya. Komunikasi efektif adalah proses komunikasi yang kritis konstruktif, detail dan tepat sasaran. Sedangkan menurut Aribowo Prijosaksono dan Ping Hartono dalam bukunya Make Yourself A Leader, yang dimaksudkan komunikasi efektif adalah komunikasi yang memenuhi nilai REACH (Respect – Empathy – Audible – Clarity – Humble). Respect berarti saling menghormati dan menghargai. Empathy berarti mampu menempatkan diri sesuai kondisi. Audible berarti pesan dapat diterima. Clarity berarti pesan jelas (tidak multitafsir). Humble berarti rendah hati. Komunikasi efektif akan membuat perencanaan strategi atau program kerja menjadi detail dan dimengerti oleh seluruh pihak yang akan menjalankannya. Komunikasi efektif akan membuat pelaksanaan berhasil sesuai dengan perencanaan (bisa rencana A atau rencana B, dst). Keberhasilan strategi atau program kerja secara kontinu akan membawa kita pada kesuksesan pencapaian visi dan misi organisasi.
Sekarang mari kita lihat sedikit faktanya, pernah ada teman yang berkata kepada saya,
“gw ga ngerti deh sama si xxx (nama disamarkan, hehe), disms ga dibales, di telepon ga diangkat, padahal penting terkait program kerja xxx!”
mungkin ini sering terjadi di sekitar temen-temen. Mungkin temen-temen adalah korban. Mungkin temen-temen adalah tersangka. Percayalah komunikasi semacam ini tidak baik. Mari kita lihat fakta lain, pernah ada teman yang bercerita bahwa dia telah menunggu sekian jam untuk membahas program kerja bersama partnernya. Dia rela meninggalkan kuliahnya demi pertemuan tersebut. Namun, diluar dugaan, pertemuannya batal karena partnernya tidak hadir dan tidak memberi kabar, dihubungi pun sulit. Sungguh, ini menzalimi saudaranya. Percayalah komunikasi semacam ini (juga) tidak baik. Atau mungkin teman-teman pernah mengalami yang lebih ekstrim lagi misal gagal (tidak sempurna) menjalankan program kerja unggulan karena miskomunikasi, gagal bertemu pihak dekanat/rektorat karena miskomunikasi, gagal mendapatkan sponsor karena miskomunikasi, gagal merencanakan teknis program kerja karena memaksakan pendapat pribadi, gagal menjalankan program kerja karena saling mengandalkan dan lain sebagainya. Memang masalahnya (red – miskomunikasi) terlihat sederhana tetapi dampak negatifnya besar. Bahkan mungkin bisa menimbulkan ketidakpercayaan seseorang terhadap kita karena kita sering ingkar janji. Ketidakpercayaan ini akan meretakkan interaksi dalam organisasi. Pada akhirnya, berdampak pada pencapaian organisasi tersebut karena kegagalan-kegagalan kecil yang terjadi selama masa kepengurusan. Memang benang merahnya panjang dan ada faktor selain komunikasi. Akan tetapi, menurut saya perlu direnungkan kalimat berikut, aspek komunikasi menentukan sukses tidaknya pencapaian visi dan misi organisasi. Tentunya melalui komunikasi yang efektif seperti disebutkan di atas. Sekarang, bisa dihitung masih awal kepengurusan, momen yang tepat bagi setiap ketua organisasi kampus untuk mengingatkan anggotanya untuk berkomunikasi secara efektif supaya kerja selama setahun bisa optimal. Baiklah. Sekian hipotesa dari saya, semoga bermanfaat.
