Oktober 30, 2013

Milad AADT di Merapi

Perjalanan seakan tak ada habisnya. Begitulah hidup, menuntut kita untuk terus berjalan, berjalan memperbaiki diri dari setiap momen yang kita alami. Menurut saya, wisata alam merupakan salah satu cara yang baik untuk memperbaiki diri. Sadar bahwa alam memiliki cara sendiri untuk mengajarkan kita tentang arti kerja sama, tenggang rasa, menghormati, menghargai, kesabaran, keikhlasan, dan masih banyak lagi.
Lagi-lagi tentang gunung. Tujuan yang kami tentukan kali ini adalah Gunung Merapi 2826 mdpl, terletak di dua propinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (Kab. Sleman) dan Jawa Tengah (Kab. Magelang, Kab. Boyolali, Kab. Klaten). Posisi Merapi tepat berada di sebelah selatan Merbabu. Saat bulan September naik ke Merbabu, Merapi-lah yang menjadi pemandangannya. Begitu juga sebaliknya. 
Puncak Merbabu dilihat dari Kaki Gunung Merapi
Perjalanan AADT bukanlah perjalanan biasa. Kali ini dalam rangka memperingati milad AADT yang pertama. Meski sebenarnya milad AADT adalah tanggal 28 Oktober 2012. Namun, waktu yang dekat dengan tanggal tersebut adalah 25 - 27 Oktober. Ndak apa lah miladnya maju sedikit, hehe. Seperti biasa, jum'at adalah hari keberangkatan. Pukul 18.00 berkumpul di Depok, beberapa berangkat langsung ke Stasiun Pasar Senen. Pukul 20.00 berangkat dari Depok menggunakan Commuter Line, turun di Gondangdia dan melanjutkan dengan Taksi ke Stasiun Pasar Senen. Tunggu punya tunggu, kejadian bulan sebelumnya terulang lagi, ada personil yang nyaris terlambat. Meski akhirnya tetap lengkap. Fiuh.
Kereta Tawang Jaya mengantar kami ke Semarang, kemudian menggunakan truk menuju Base Camp Selo yang berada di Kabupaten Boyolali. Perjalanan sekitar 4 jam. Sepanjang perjalanan kami bermain mafia-mafia-an. Permainan yang membuat kami keranjingan hingga tidak terasa bahwa pukul 12.00 kami sudah sampai Base Camp Selo. Istirahat, sholat, makan, repacking.
Pukul 13.30 kami mulai naik. Sebelum berangkat kami sempatkan untuk berfoto ria di depan tulisan NEW SELO. Perjalanan diawal dengan ladang penduduk, menanjak, kombinasi debu dan kerikil kecil. Kemudian kami melewati gerbang Masuk Gunung Merapi. Istirahat sejenak. Lanjut lagi. Makin ke atas, makin menanjak, berbatu. Kemudian ada pertigaan. Belok ke kanan merupakan jalur evakuasi. Jalur ke kiri merupakan jalur alternatif. perbedaannya, jalur alternatif lebih banyak landainya dan dominasi tanah. Jalur evakuasi cukup curam, donimasi batu-batu. 
Kondisi Perjalanan Awal

Gerbang Pendakian Merapi
Pos 1
Pos 1 dilewati, masih lanjut lagi, waktu semakin malam, angin kencang, kabut turun begitu tebal. menjelang pos 2, jalur makin sempit, kanan dan kiri adalah bebatuan yang cukup curam, mungkin cocok disebut sebagai jurang. Rencana kami akan menginap di Pasar Bubrah. Namun, sepertinya tidak memungkinkan, kabut tebal, ber-20 orang, beberapa kondisinya tidak fit, jalur sempit. Akhirnya kami memutuskan untuk camp setelah pos 2, sebelum batas vegetasi habis. Saat itu, waktu menunjukkan jam 7-an malam, kabut tebal, angin cukup kencang, hujan rintik.
Berhubung tempat camp yang sempit, kami membagi menjadi 2 kelompok. Jarak kami berdekatan. Saya di kelompok yang bawah. Spontan kami memasak air untuk menghangatkan badan, memasak lauk untuk makan malam. Menu malam itu adalah ayam goreng, hum yummy. Tenda juga segera didirikan untuk berganti pakaian karena pakaian yang basah tidak baik digunakan untuk tidur. Mengapa? karena bisa masuk angin atau demam, bahkan bisa membuat hipotermia. Dua tenda telah didirikan, flysheet juga dipasangkan di atas dua tenda tersebut. Setelah selesai, kami makan malam bersama meski sudah pada kenyang karena menggado lontong dan lauk sewaktu memasak. Selesai makan, kami tidur. Waktu menunjukkan pukul 9.30-an malam. Tidak lama tidur, hujan mulai deras dan berlanjut sampai lebih dari pukul 3 pagi. Beberapa tenda kami bocor dan basah. Barang dan orang diungsikan ke tenda yang tidak bocor.
Awalnya kami akan berangkat pukul 3 pagi untuk summit attack. Cuaca masih hujan deras, kabut tebal, angin berhembus kencang, beberapa dari kami juga tidak fit. Akhirnya, kami mengurungkan niat untuk ke puncak. Pagi menjelang, matahari bersinar, kabut masih tebal, suhu udara tentu dingin. Baru pukul 5 pagi lewat, kami mulai keluar tenda, menikmati segarnya udara pagi Merapi. Mulailah kami beraktivitas, ada yang nyemak, ada yang masak. Menu pagi ini adalah menu baru bagi kami yaitu Soto Ayam, hehe. Rasanya nikmat, dibuat tanpa micin, disajikan selagi hangat, para kokinya hebat deh, hehe.
Hari sudah mulai terang, kabut perlahan bergeser, puncak Merapi terkadang terlihat dari tempat Camp. Sayangnya kami hanya dapat menikmati dari kejauhan. Namun, kami tak berkecil hati, kami masih bisa berfoto-ria di atas batu besar dengan background puncak Merapi. Ini agak maksa sih tapi setidaknya itu cukup membuat kami bahagia. Toh bahagia tidak diukur dari actual = planning. Padahal ini semacam menghibur diri, hehe. Akan tetapi, hal penting yang kami sadari adalah bahwa manusia boleh merencanakan tetapi Allah-lah yang menentukan #sokbijak, hehe. Banyak kawan pendaki lain yang melewati kami untuk summit attack, kami hanya bisa mendoakan mereka sampai puncak dengan selamat dan kembali ke Base Camp dengan selamat pula. Kami memiliki constraint waktu, jam 1 siang harus sudah sampai Base Camp New Selo untuk selanjutnya menuju Semarang selama 4 jam. Oleh karena itu, kami tidak dapat melanjutkan ke puncak. Jika memaksakan diri, kemungkinan besar kami tidak dapat mengejar jadwal kereta. Pelajaran yang saya ambil disini adalah kesabaran dan kebersamaan, mungkin kami tidak dapat mencapai puncak Merapi saat ini tetapi kami yakin suatu saat kami dapat mencapai puncak Merapi bersama-sama. Milad AADT tetaplah berkesan selama perjalanan ini, meskipun kami lelah, kami tetap senang, kami bertemu kawan baru, kami memiliki cerita baru, kami memiliki permainan baru, dan yang terpenting adalah kami semakin yakin bahwa ciptaan-Nya sungguhlah luar biasa indah, tak tertandingi.
Puncak Merapi Tertutup Kabut
Kereta kami dijadwalkan pukul 19.33. Kami sampai Semarang sekitar jam 6 sore. Waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk bersih-bersih, sholat dan makan malam. Kami tak sempat membeli oleh-oleh. Selain kami juga nanti kerepotan membawanya. Tunggu punya tunggu, kereta kami telat lagi. Pukul 8 malam kereta kami tiba, segera kami naik dan mengatur barang bawaan yang super banyak #lebay. Kereta berangkat, obral-obrol sana-sini, sebagian mata telah terpejam, sebagian lain antusias dengan Bapak Sang Peramal, beberapa mengisengi kawannya, ada yang jeprat-jepret kamera. Kereta semakin melaju, tubuh kami pun semakin lelah, mata terpejam. Kami tidur di kereta menuju kota Jakarta. Selamat datang kembali di Kota yang keras! dan Selamat Milad AADT, Semoga makin kece membadai dan makin dekat dengan Tuhan! Aamiin :)

September 25, 2013

Kau Angin

Semula aku sangka kau gelombang
tapi setiap kali aku renangi
Kau menggasing bagai angin
Peluh membuncah dan ruh dan tubuh gelisah
adalah ibadah bagi cinta tak berjamah
Di situ, kunikmati teduhmu
sesekali sebelum kau berhembus pergi

Aku buru suara seruling di jauhan
yang kutemukan dedahan bergesekan
Aku termangu tertipu gerakmu
sehening batu di keadalaman rinduku

Kini aku tahu, tak perlu memburumu
Kau hidup di dalam dan di luar diriku
Tak berjarak namun terasa jauh
Teramat dekat namun tak tersentuh

Jika benar kaulah angin itu
semauku akan kuhirup kamu
Dalam jantung yang berdegup
kau gairah baru bagi hidup
Mengalirlah darah, mengalirlah
dalam urat nadi cintaku
karenamu, kekasihku!

-Sitok Srengenge-

September 22, 2013

Wisuda Merbabu: Streeessss bet siii!


Tiga minggu lalu, untuk kesekian kalinya saya bersama kawan-kawan AADT (Arung Alam Dekati Tuhan) mencoba mendekatkan diri pada Tuhan. Kali ini kami mencoba mendaki gunung Merbabu. Merbabu terletak di propinsi Jawa Tengah, tepatnya di perbatasan kabupaten Magelang, Boyolali, Salatiga dan Semarang. Posisi Merbabu cukup strategis untuk mendapatkan pemandangan gunung-gunung lain. Sebelah selatan ada Merapi, sebelah timur ada Lawu, sebelah utara ada Ungaran, dan sebelah barat terlihat Sumbing, Sindoro dan Sikunir. Sebenarnya di sebelah barat pun seharusnya terlihat Slamet tetapi kemarin tidak terlihat atau memang sayanya yang ngga ngeh. Hehe.
Merbabu memiliki beberapa puncak. Puncak paling tinggi adalah puncak Kentheng Songo, tingginya 3142 mdpl. Puncak lainnya yaitu puncak syarif, tingginya 3119 mdpl. Untuk menuju puncak ada 3 jalur yang bisa dipilih yaitu jalur Selo, jalur Wekas, dan jalur Kopeng. Kami memilih jalur Wekas karena waktu tempuh yang lebih pendek dan lokasi yang lebih dekat dari Semarang. Kebetulan kami menggunakan KA Tawang Jaya yang tujuan akhirnya stasiun Semarang Poncol. Sebagai gambaran, berikut catatan perjalanan yang coba kami buat:
---
Jum’at, 13 September 2013
22.10 – 05.16           Perjalanan dari stasiun Pasar Senen – stasiun Semarang Poncol menggunakan KA Tawang Jaya. Kereta terlambat, kami tiba di Poncol pukul 06.45
Sabtu, 14 September 2013
06.45 – 09.00           Sarapan pagi dan lain-lain
09.00 – 12.00           Perjalanan dari stasiun Semarang Poncol – base camp Wekas menggunakan truk
12.00 – 13.00           Istirahat, sholat, makan, repacking
13.00 – 17.30           Base camp Wekas – Pos 2
17.30 – 04.00           Istirahat, pasang tenda, makan, ngobrol, tilawah, api unggun, masak, nyemak, dll.
Ahad, 15 September 2013
04.00 – 08.20           Pos 2 – Puncak Kentheng Songo
08.20 – 09.00           Puncak Kentheng Songo. Foto-foto. Menikmati keindahan alam dan merenungi ciptaan Tuhan
09.00 – 11.00           Puncak Kentheng Songo – Pos 2
11.00 – 13.00           Istirahat, sholat, makan, bongkar tenda, packing
13.00 – 14.20           Pos 2 – base camp Wekas
14.20 – 15.15           Istirahat, bersih-bersih, sholat, packing
15.15 – 18.30           Perjalanan dari base camp Wekas – stasiun Semarang Poncol
18.30 – 20.00           Makan, sholat, bersih-bersih, beli minum & makanan kecil
20.00 – 04.00           Perjalanan dari stasiun Semarang Poncol – stasiun Jatinegara menggunakan KA Kertajaya. Seharunya kereta berangkat pukul 19.33, sampai 02.53
---
Base camp Wekas – Pos 2
Perjalanan dari base camp Wekas ke pos 2 cukup melelahkan, maklum beberapa dari kami masih kurang persiapan fisik bahkan mungkin ada yang tidak tetapi ngaku-nya sudah lari, lari dari kenyataan atau lari-lari dalam mimpi *emotstraightface. Ya, jadi 4,5 jam baru sampai pos 2, sudah menjelang maghrib pastinya. Kondisi pos 2 ini lumayan luas, bisa muat lebih dari dua puluhan tenda (semoga engga lebay). Selain itu, terdapat sumber air. Ya! Air sangat penting buat kami para pendaki gunung, tanpanya kami kehausan dan kelaparan. Semakin sadar bahwa air sangat vital bagi keseharian. Sayangnya kadang masih ada orang yang boros menggunakan air contoh berwudhu dengan kran dibuka full padahal dengan dibuka setengah saja, itu sudah cukup untuk berwudhu.
Medan menuju pos 2 rata-rata sekitar 45 derajat. Bah! Ini angka darimana, memang agak-agak kirologi sih. Jalan setapaknya berdebu, bukan pake aja melainkan pake banget. Esoknya pas turun ke bawah dan sampai depok, baru sadar kotoran hidung-nya menghitam *iyeeuhhh. Itu artinya medannya memang sangat berdebu. Perlu diingat, naiknya bulan September, medan berdebu, jangan lupa bawa masker. Sepanjang jalan, pohon-pohonan masih banyak bertengger, terkadang panas, terkadang bisa ngadem. Saat mulai naik, cuaca masih mendung, adem dong. Terus 30 – 60 menit berlalu matahari mulai nongol, *jeng-jeng lupa make sun screen/sun block. Sisa olean sun screen di Semarang udah kebasuh sama air wudhu untuk sholat dzuhur – ashar. Yah! Nasib.

Kode SOS Palsu
Ada kejadian menarik waktu pendakian kemarin. Intinya adalah ada orang yang teriak minta tolong (sembari menyalakan lampu senter kedap-kedip ke arah pos 2) dan minta dibawain air ke atas (mungkin sekitar pos pemancar). Kami yang ada di pos 2 panik karena ada juga laporan dari orang yang baru turun bahwa ada rombongan yang collaps. Koordinasi dengan berbagai rombongan dilakukan, logistik disiapkan, alat resque sederhana juga dipersiapkan. Jumlah tim resque 6 atau 7 orang (saya lupa). Perjalanan sekitar 2 jam. Sampai di pos pemancar, ternyata kami dibohongi. Rombongan yang ditemui di sekitar pos pemancar tidak mengaku berteriak minta tolong, bahkan malah membuat kesal. Sungguh sangat disayangkan perilaku tersebut. Helloww, gunung bukan tempat untuk ngerjain orang karena taruhannya bisa nyawa. Akhirnya, tim resque turun ke pos 2 dengan tangan hampa dan mungkin rasa kesal. Bagi saya, ini jadi pelajaran penting bahwa siapapun tidak boleh sembarangan menggunakan kode SOS atau memohon bantuan jika memang tidak terjadi apa-apa. Kejadian seperti ini justru bisa membuat sebagian orang anti-pati terhadap kode SOS. Orang yang sudah pernah atau menyaksikan temannya dibohongi mungkin akan tidak peduli jika ada kode SOS lagi di perjalanan berikutnya. Padahal mungkin kode SOS tersebut memang benar-benar keadaan kritis. Ya, semoga tidak demikian dan semoga mereka yang mengerjai diberikan kesadaran, aamiin.

Menuju Puncak Kentheng Songo
Kami bangun pukul 03.15. Suhu udara tak mau kompromi. Di luar tenda tentu lebih dingin. Rencana kami semalam, mulai summit attack pukul 04.00, agak siang memang karena target kami hanya sampai pos pemancar. Pakaian double, jaket double, kupluk, sarung tangan (gloves), kaus kaki double, sepatu, headlamp/senter, syal, tetapi udara masih aja menusuk. Tidak semua dari kami ikut summit attack, ada 3 orang yang menunggu tenda karena kondisi fisik tidak memungkinkan. Di perjalanan menuju pos pemancar juga 1 orang diantar kembali ke pos 2 karena kadar oksigen pagi hari masih tipis, kekurangan oksigen bagi sebagian orang cukup mengganggu pernapasan.
Sampai di pertigaan menuju pos pemancar (ke kiri) – puncak (ke kanan) sekitar pukul 06.20. Dengan agak sedikit memaksa kami menuju puncak. Jalanan berbatu, sedikit datar. Sebelah kiri jurang, mendatar lagi, naik terjal agak merangkak. Sampailah di pos helipad. Kondisi kanan kiri masih jurang, memang kami melewati punggung bukit. Orang lebih sering menyebut jalur tersebut sebagai jembatan setan karena kanan kiri-nya jurang. Kemudian, kadang datar, nanjak dikit, turun dikit, berbatu, berdebu. Lengkap sekali medan Merbabu ini. Menjelang pertigaan pertemuan jalur Wekas – Kopeng, medan sangat curam. Setapak demi setapak, sebelah kiri jurang, dalam, kalau jatuh ya wassalam. Sampai di pertigaan, ambil ke kanan. Di depan kami terlihat puncak syarif. Di posisi ini, kami sudah cukup dapat pemadangan Sindoro, Sumbing, Sikunir dan Lawu. Merapi belum terlihat. Sampai disini saya sudah ketar-ketir khawatir waktu ngga kekejar. Beberapa dari kami sudah di depan menuju puncak Kentheng Songo, beberapa mencukupkan diri disini. Dari posisi ini menuju Kentheng Songo, mendatar, sebelah kiri jurang sekitar 60 – 70 derajat (lagi-lagi kirologi), naik dikit, turun dikit, berbatu, kalau berpapasan salah satu harus berhenti karena kalau tidak bisa tergelincir ke jurang. Menjelang puncak, medan-nya sangat wah. Terjal, berbatu, berdebu! Perlu sedikit merangkak, pegangan kuat, berdekatan dengan yang lain untuk mengulurkan tangan (bagi sesama jenis). Fiuh, tanjakan terakhir adalah tanah tebal berdebu. Akhirnya, sampai juga di puncak Kentheng Songo pukul 08.20.
Di puncak, ritual dimulai. Cekrak, cekrik, hup, cheese, itu suara-suara yang keluar saat mau diambil gambar. Alhamdulillah cuaca cerah, matahari terik, angin sepoi-sepoi, kadang kabut menutupi Merapi. Pemandangan sungguh exotis. Dari sini, terlihat Merapi, jelas, elegan! Selama 40 menit, kami berfoto ria dengan berbagai gaya, membuat tulisan, foto dengan spanduk, dst. Lelah? Pasti. Namun, di puncak gunung, semuanya terbayar. Serius. Turun pukul 09.00, agak setengah berlari tetapi tetap berhati-hati. Sampai di pos 2 pukul 11.00, alhamdulillah.
---
Biaya perjalanan kali ini cukup hemat, cocok untuk ukuran mahasiswa meskipun empot-empotan juga. Hehe. Harga tiket KA Tawang Jaya sebesar Rp 45.000, KA Kertajaya Rp. 50.000. Sementara transportasi dari Semarang ke Wekas, kami menggunakan truk. What! Truk? Yap betul truk yang biasa buat ngangkut pasir, sayur-mayur, sapi, kambing, dst. Jadilah kami ber-25 sapi yang dipanggang panasnya matahari. Tentunya sebelum naik truk kami ribet-ribet memakai sun screen, sun block, after sun, dan sun-sun yang lain, supaya warna kulit tidak menghitam, hehe. Kami menyewa truk pulang – pergi tetapi truk tidak menginap. Biaya sewanya lebih murah Rp 400.000 dari harga normal. Kebetulan salah satu rombongan kami memiliki teman di Semarang, jadi saya meminta tolong beliau untuk mencarikan kendaraan. Enak tho punya banyak teman? Tapi jangan sampai sepragmatis itu ya dalam berteman. Itu bisa jadi disebut sebagai tingkatan teman paling rendah, yang hanya ingin mengambil manfatnya saja. Namun, saya percaya setiap kalian tidaklah demikian. Lanjut, untuk uang logistik saya alokasikan Rp 100.000. Itu mencakup sewa alat, beli gas, parafin, bahan makanan, biaya masuk kawasan Merbabu, P3K, dll. Jumlah 25 orang cukup membuat berbagi biaya tetapi mengkoordinasikan pendakian dengan jumlah segitu juga cukup melelahkan, hehe *lebay.
Mungkin sebagian orang membayangkan mendaki gunung merupakan perjalanan memprihatinkan (meski sebenarnya iya, hehe, kalau tidak dipersiapkan dengan baik). Jika dipersiapkan dengan baik makan semuanya akan senang-senang saja. Contoh: kami bisa makan ayam goreng di gunung. Buat yang mbah Gunung alias orang yang sering naik gunung, mungkin itu biasa. Bagi AADT luar biasa karena baru kali ini menunya ayam goreng, hehe. Itu tidak terlepas dari koki yang handal. Oia, jago masak di rumah belum tentu jago masak di gunung lho. Ternyata suhu udara cukup berpengaruh. Jadi, bagi yang pinter masak jangan sombong kalo bisa masak di gunung, coba buktikan dulu. Selain ayam goreng, ada sayur sop, tumis sayur. Sebenernya kami juga udah bawa bahan untuk masak brokoli cheese melt (eh bener ngga nih namanya *emotkeringetsatubiji) tapi karena cheese-nya ngga melt-melt meski sudah dicoba beribu cara, akhirnya mission failed. Mungkin cheese-nya bisa melt kalo liat cowok ganteng yak, hehehe. Kami juga bawa lauk siap saji, sebut saja ikan bilih danau kerinci campur kacang, hmm yummy (tapi ga sempet makan juga sik L). Ada juga dendeng kering srundeng tapi ini udah duluan abis di base camp Wekas, bersama lontong, hehe. Ya, intinya sangat menyenangkan perjalanan mendaki gunung bersama AADT, selalu ceria, dzikir tetep jalan karena ada ustadz-nya, makanan enak, minuman juga sehat, cemilan lengkap, alat dokumentasi lengkap, biaya terjangkau*, hehe (*relatif tergantung status, buat yang udah kerja lumayan terjangkau, buat yang masih mahasiswa atau baru lulus, yaa lumayan empot-empotan, hehe).

Ada dua hal lagi yang kelupa. Pertama, mendaki Merbabu ini sebenarnya buat merayakan wisuda beberapa anggota AADT (tentunya juga mendekatkan diri pada Tuhan) tapi yang buat krik-krik adalah toga udah dibawa sampai pos 2 tapi lupa dibawa ke puncak. Alhasil, ndak ada foto bertoga di perjalanan kali ini, sedih bener yang udah bela-belain bawa toga. Yasudahlah, yang penting perjalanan lancar dan kembali ke rumah dengan selamat, it’s enough i think :). Kedua, setiap perjalanan, AADT selalu memiliki jargon. Kali ini jargonnya adalah Streeessss bet siii! ini dipatenkan dari celetukan salah satu anggota AADT. Sepanjang perjalanan, setiap diledekin maka muncul celetukan yang ada kata-kata stresss-nya, mungkin memang stres beneran, hehe. Kalau stres beneran malah saya tidak khawatir karena Merbabu dekat dengan Magelang dimana terdapat Rumah Sakit Jiwa :p. Menjelang turun dari pos 2 ke base camp Wekas, kami tak lupa meneriakkan jargon. Wisuda Merbabu!!! Streeessss bet siii!!!

-Berikut spoiler foto-fotonya-
Pemandangan Gunung Lawu
Tanjakan Terjal
Tanjakan Terjal
Tanjakan Terjal
Tanda Menuju Puncak
Pemandangan Gunung Merapi
Pemandangan Gunung Sumbing - Sindoro - Sikunir (3S)
Jembatan Setan
Puncak Syarif dan Puncak Kentheng Songo
Ai dan Merapi
Rekind Adventure Community di Merbabu
Pos Pemancar
Ai and 3S
The Team

Agustus 07, 2013

Ramadhan

Kau benar-benar telah pergi
Tak menoleh ke belakang, sama sekali

Mungkin salahku
Yang pura-pura senang dengan hadirmu
Yang hanya memberikan separuh hati padamu
Yang belum memanfaatkan waktumu dengan baik

Sudahlah. Aku pun harus pergi
Bersiap menghadapi terik mentari
Bertarung pertahankan ikrarku
Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi yang lain

Aku berdoa dalam sepiku, untuk aku dan kamu
Semoga kita berjodoh, bertemu kembali
Dalam cita dan cinta yang sama
Mereguk manisnya iman, islam dan ihsan

Selamat tinggal ramadhan!
Semoga kita diizinkan bertemu kembali! Aamiin

Agustus 02, 2013

Mudik

Masa-masa menjelang hari raya idul fitri adalah masa-masa yang dinanti bagi sebagian manusia yang mengejar asa di tempat yang jauh dari rumah. Suatu kegembiraan jika libur tiba, para pengejar asa bersiap-siap untuk kembali ke titik mula, berkumpul bersama keluarga, mengenang masa kecil, berkumpul dengan kawan lama, dst. Terutama mereka yang jarang pulang ke kampung halaman.

Moda transportasi siap mengantarkan ke tempat tujuan. Kementerian perhubungan menjadi lembaga yang paling sibuk. Mereka bertugas mengatur jalannya mudik agar aman dan tertib, tentu bekerjasama dengan lembaga lain misalnya kepolisian yang menyiagakan personilnya di penjuru fasilitas umum seperti stasiun, terminal bus, bandara, pelabuhan, jalan protokol, dst. Perusahaan otomotif juga tak mau kalah dengan membuka rest area untuk cek kondisi kendaraan. Tenaga medis juga disiagakan diberbagai belahan wilayah apabila terjadi kecelakaan. Produk obat-obatan sebagai upaya marketing juga disebar ke berbagai wilayah. Penyedia jasa operator telepon seluler juga standby untuk memperlancar komunikasi dengan promosi yang menggiurkan. Media pun tak mau kalah, mereka menggembor-gemborkan di televisi: menyoroti kemacetan, jalan rusak, lakalantas, tanah longsor dan lain-lain, yang ditayangkan berhari-hari dari H-7 sampai H+7. Stasiun radio pun tak luput. Hingga jadilah hajatan besar tahunan yang bernama mudik ini. Peristiwa luar biasa yang hanya terjadi di Indonesia.

Pemudik adalah raja, sepertinya itu bukan sebutan yang berlebihan. Beberapa waktu lalu, dibuka pendaftaran mudik bersama  dari kementerian perhubungan bagi mereka yang ingin mudik menggunakan roda dua. Pemudik roda dua ini akan diangkut menggunakan bus, sedangkan roda duanya diangkut menggunakan truk. Banyak juga perusahaan yang mengadakan program mudik bareng secara gratis. Bagi yang awam mudik, pusat informasi disediakan di banyak tempat. Petugas keamanan siap siaga untuk memperlancar mudik. Polisi lalu lintas 24 jam membantu mengatur lalu lintas. Dan masih banyak lagi hal-hal yang memudahkan pemudik. Ada kemudahan, ada kesulitan. Satu hal yang pasti, harga tiket moda transportasi melangit dan ketersediaannya terbatas. Disini hukum ekonomi berlaku, banyak peminat tiket maka harga naik. Harga makin naik menjelang hari H, kalau tidak dipesan jauh-jauh hari maka siap-siap saja merogoh kocek lebih dalam tetapi secara rate harganya paling maksimal dalam setahun. Tiket juga juga seolah menjadi barang langka contoh tiket kereta api jarak jauh sudah hampir habis di H-90 meski ada beberapa kursi tambahan. Yang kasihan adalah mereka yang tidak update berita sehingga harus mengalah untuk memilih moda lain seperti bus, yang konsekuensinya adalah terkena macet jika tidak mengatur jadwal pulang. Berbicara macet, pembahasannya panjang lebar, volume kendaraan yang melonjak, kondisi jalan, serta ketertiban pengguna jalan. Menurut saya, terlampau kompleks meski menurut saya kuncinya adalah pada ketertiban penggunaan #cmiiw.

Setiap orang memiliki kesan tersendiri tentang mudik. Ada yang menganggap sebuah keharusan karena merasa ada yang kurang kalau tidak mudik. Ada juga merasa biasa saja, mungkin karena sudah sering. Bahkan mungkin ada yang kesal karena selalu berhadapan dengan kemacetan. Bagi saya, mudik memiliki kesan tersendiri, yaitu sebagai sarana untuk introspeksi diri dan silaturahim. Mengingat perjalanan ke kebumen sekitar +/- 12 jam menggunakan bus antar propinsi, saya sering menjadikan momen tersebut untuk introspeksi diri. Selain itu, perjalanan jauh enak dipakai untuk melejitkan imajinasi, ini bagus untuk menginovasikan kegiatan sehari-hari. Kadang ide muncul selama perjalanan mudik. Kaitan aktivitas sekarang dan dulu saat di kampung halaman juga membenturkan otak, kadang berfikir, "oh sudah sejauh ini" yang pasti selalu bersyukur. Sampai di rumah, ada hal yang berubah, tempat, orang, dll. Perlu memutar otak lagi untuk mengingat2 nama orang, nama tempat, jalan menuju ke suatu tempat. Ya alakulihal ngga pikun-pikun amat. Senang bisa bertemu lagi dengan sodara, teman. Saling sapa, tanya kabar, berbagi cerita, atau sekadar untuk nongkrong bareng, ngobrol ngalor ngidul, tawa-tiwi, mengenang masa-masa bocah, difikir-fikir lucu, dudul, kocak, sebel, dst. Pada akhirnya saya bersyukur masih bisa dikasih kesempatan mudik, ini semacam saran untuk merefresh kembali apa yang sudah digapai dan apa yang harus dilakukan.

Selamat mudik kawan! :)
Selamat merasakan kembali kehangatan keluarga
Selamat mengenang kembali masa lalu

02.08.13 - Bus menuju Kebumen

Juli 10, 2013

Tiga Doa Malaikat Jibril yang Diamini Rasulullah saw

Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah naik ke atas mimbar, kemudian beliau berkata :
"Amin..amin. .amin..".

Kemudian ditanyakan (para sahabat), kepada beliau :
"Wahai Rasulullah, saat Engkau naik ke atas mimbar, Engkau sampai mengatakan Amin (3x) (ada apakah gerangan?)"

Kemudian Rasulullah memberikan keterangan sbb:

"Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan : "Barang siapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa) , kemudian dia tidak mendapatkan pengAMPUNan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah :Amin" Kemudian aku meng aminkannya.

"Dan barang siapa yang mendapatkan orang tuanya (ketika keduanya masih hidup), atau salah satu diantara kedua orang tuanya masih hidup, sementara (dia mampu berbuat baik untuk kedua atau salah satu diantara keduanya), kemudian dia tak mau berbuat baik kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya (yang masih hidup tadi), kemudian mati, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka aku katakan :Amin"

"Dan barang siapa yang dimana namaku disebutkan (didepannya) , kemudian dia tak memberikan shalawat kepadaku, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka katakanlah (wahai Muhammad SAW) (amin), maka aku katakan "Amin"

(H.R Ibnu Hibban didalam kitab shahihnya 3:188)

-Repost dari Akun Facebook Alhabib Islamic Web Service-

Mari perbaiki kualitas diri agar kita tidak termasuk dalam ketiga golongan tersebut, aamiin.