Maret 20, 2013

Angkutan Kota (Angkot)

Sumber : duniainformation.blogspot.com

Aku takjub!
Kau ibarat panglima perang. Selalu berada di garda terdepan saat jam berangkat dan pulang kantor.
Kau ibarat penari balet. Pandai meliak-liuk di tengah keramaian kendaraan bermotor. Sisi sebelah kiri merupakan favoritmu.
Kau ibarat pria idaman wanita. Selalu sabar menunggu di depan gang-gang ibukota.
Kau ibarat candu. Banyak yang rela menaikimu meski seperti sarden kalengan. Aku salah satu sarden itu.
Kau ibarat pembalap F1. Melaju kencang, tak mau berada di belakang.

Aku salut!
Kau memobilisasi ribuan orang setiap harinya.
Kau mengantarkan langgananmu hingga pinggiran ibukota.
Kau tak malu dengan tampangmu yang pas-pasan.
Kau menjangkau kaum proletar.

Tapi, tahukah kau bahwa
Aku sebal padamu karena perilakumu,
Yang suka berhenti sembarangan menaik-turunkan pelangganmu.
Yang hobi ngetem di pertigaan, stasiun, terminal, gang, dan tempat strategis lainnya.
Yang seringkali ugal-ugalan saat menari-nari di aspal-beton panas.
Yang seringkali mengabaikan papan berwarna hijau, putih, merah, kuning.
Memang aku juga menyadari bahwa ini bukan sepenuhnya salahmu,
Kau dikejar setoran tiap harinya. Terlebih lagi kau harus bergantian.
Pemangku kebijakan kadangkala tidak memperhatikanmu. Tidak ada pembatasan jumlah kendaaraan pribadi, jalan berlubang disana-sini, halte tidak diremajakan.
Pelangganmu juga seenaknya sendiri. Menunggu di sembarang tempat padahal sudah tersedia halte. Menyeberang tidak di zebra cross atau jembatan penyeberangan.
Kau harus membagi sedikit jalan untuk kendaraan yang parkir di pinggir jalan.
  
Lantas bagaimana?
Aku tak bisa menghentikanmu. Itu hakmu sebagai Warga Negara Indonesia.
Lagipula, kau punya tanggungan di rumahmu dan rumah orang tuamu.
Aku hanya bisa berpesan, perbaiki perilakumu.
Agar anak-anakmu mudah menuntut ilmu, tumbuh dewasa, cerdas dan memiliki masa depan gemilang.
Agar istrimu cantik dan patuh padamu.
Agar orang tuamu sayang dan bangga padamu.
Agar orang-orang disekitarmu menghargaimu.
Kuacungi dua jempol jika kau mampu melakukannya.
Ku tambahkan dua jempol pinjaman temanku jika kau menjadi panutan bagi yang lain untuk memperbaiki perilakunya.

--
Pinggiran Jakarta, 16 Maret 2013, 15.18 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar