Desember 23, 2013

One Day One Juz

Belum lama ini, di jaringan pertemanan saya, mereka sebuah program yang bernama One Day One Juz atau disingkat ODOJ. Apabila diartikan secara harfiah tentu 1 hari 1 juz (Al-Qur'an). Memang demikian adanya, program ini bertujuan untuk membiasakan diri untuk membaca Al-Qur'an setiap hari, lebih tepatnya 1 juz per hari. Bagi sebagian orang mungkin terasa berat, komentar ini normal kok karena menurut saya juga berat, hehe. Tapi ada juga yang sudah terbiasa membaca 1 juz per hari.

Logo One Day One Juz (ODOJ)

Program ini memanfaatkan aplikasi Whatsapp, mungkin sudah tidak asing di telinga kita, #yaiyalah Indonesia pengguna aktif Whatsapp nomer 1 dunia. Saya bingung harus bangga atau sedih. Lanjut, yang ingin ikut program ODOJ akan dimasukkan ke dalam sebuah grup WA, total ada 31 orang, 1 berperan sebagai admin. Setiap orang diharuskan membaca 1 juz per hari sehingga setiap hari bisa khatam grup 1 kali dan dalam 1 bulan bisa khatam pribadi. Ada sistem pelaporan per hari. Di hari pertama, admin akan menjadi PJ untuk rekap peserta yang sudah selesai 1 juz. Update dilakukan di jam-jam tertentu, misal pukul 12.00, 16.00, 18.00 dan terakhir pukul 20.00. Apabila ada yang belum selesai tetapi masih ingin meneruskan diperkenankan hingga pukul 21.00. Namun, bila merasa tidak sanggup, bisa dilelang / dibantu oleh peserta lain yang sudah selesai. Hari berikutnya, PJ rekap adalah peserta, bergantian setiap hari sesuai urutan juz atau sesuai kesepakatan grup. Mudah bukan?

Jujur, saya suka dengan program ini. Pemrakarsanya sungguh luar biasa, mungkin bagi saya idenya sederhana tetapi sangat bermanfaat. Saya perhatikan banyak cerita peserta yang senang, antusias, bersemangat. Intinya sangat terbantu dengan program ODOJ. Dari hari ke hari, peserta program makin banyak. Dari update (21 Des 2013) yang saya dapatkan, tercatat 345 grup laki-laki, 823 grup perempuan, total 1.168 grup = 35.040 peserta ODOJ. Luar biasa bukan! Oia, ada juga peserta ODOJ dari kalangan artis lho, ada Teuku Wisnu dan Dude Herlino. Itu yang saya tahu, mungkin sudah bertambah.

Mungkin ada yang khawatir kalau bergabung di ODOJ malah membuat riya atau niat beribadah karena orang. Ya, saya tidak menyalahkan, menurut saya itu wajar saja karena memang niatan menjadi hal yang utama dalam melakukan sesuatu. Meski pada akhirnya kembali ke niat diri sendiri. Bagi saya, ODOJ penting untuk "memaksa" diri untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an. Saya yakin, semakin sering berinteraksi dengan Al-Qur'an maka semakin keranjingan, semakin ingin belajar banyak tentangnya, semakin ingin menghafalnya, semakin cinta dengannya. Dan tentu membaca Al-Qur'an banyak pahalanya dan banyak manfaat lainnya. Jadi, tunggu apa lagi?

Untuk lebih lengkapnya, bisa mengunjungi laman resminya: www.onedayonejuz.org

November 13, 2013

Good Morning Song!

Disuatu pagi, menjelang matahari terbit, ada sebuah pesan Whatsapp yang masuk ke gadget saya. Kiriman lagu berbahasa inggris yang saya tidak tahu judulnya. Saya download dan dengarkan. Ehm, lagunya enak didengar dan saya suka seketika #aneh. Dan saya baru tahu judulnya beberapa jam setelahnya, here is it.

GOOD MORNING SONG - MOCCA

Your Love is like a morning dear
pure and simple every day
your love is like morning dear
pure and softly every day


your love is like a glowing sunrise
warm and shiny every day
your love is like a morning rise
nice and easy to be loved


good morning love
have a nice day
good morning love
have a nice day


your love is like a morning dear
pure and simple every day
your love is like a morning rise
nice and easy to be loved


good morning love
have a nice day
good morning love
have a nice day



Oktober 30, 2013

Milad AADT di Merapi

Perjalanan seakan tak ada habisnya. Begitulah hidup, menuntut kita untuk terus berjalan, berjalan memperbaiki diri dari setiap momen yang kita alami. Menurut saya, wisata alam merupakan salah satu cara yang baik untuk memperbaiki diri. Sadar bahwa alam memiliki cara sendiri untuk mengajarkan kita tentang arti kerja sama, tenggang rasa, menghormati, menghargai, kesabaran, keikhlasan, dan masih banyak lagi.
Lagi-lagi tentang gunung. Tujuan yang kami tentukan kali ini adalah Gunung Merapi 2826 mdpl, terletak di dua propinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (Kab. Sleman) dan Jawa Tengah (Kab. Magelang, Kab. Boyolali, Kab. Klaten). Posisi Merapi tepat berada di sebelah selatan Merbabu. Saat bulan September naik ke Merbabu, Merapi-lah yang menjadi pemandangannya. Begitu juga sebaliknya. 
Puncak Merbabu dilihat dari Kaki Gunung Merapi
Perjalanan AADT bukanlah perjalanan biasa. Kali ini dalam rangka memperingati milad AADT yang pertama. Meski sebenarnya milad AADT adalah tanggal 28 Oktober 2012. Namun, waktu yang dekat dengan tanggal tersebut adalah 25 - 27 Oktober. Ndak apa lah miladnya maju sedikit, hehe. Seperti biasa, jum'at adalah hari keberangkatan. Pukul 18.00 berkumpul di Depok, beberapa berangkat langsung ke Stasiun Pasar Senen. Pukul 20.00 berangkat dari Depok menggunakan Commuter Line, turun di Gondangdia dan melanjutkan dengan Taksi ke Stasiun Pasar Senen. Tunggu punya tunggu, kejadian bulan sebelumnya terulang lagi, ada personil yang nyaris terlambat. Meski akhirnya tetap lengkap. Fiuh.
Kereta Tawang Jaya mengantar kami ke Semarang, kemudian menggunakan truk menuju Base Camp Selo yang berada di Kabupaten Boyolali. Perjalanan sekitar 4 jam. Sepanjang perjalanan kami bermain mafia-mafia-an. Permainan yang membuat kami keranjingan hingga tidak terasa bahwa pukul 12.00 kami sudah sampai Base Camp Selo. Istirahat, sholat, makan, repacking.
Pukul 13.30 kami mulai naik. Sebelum berangkat kami sempatkan untuk berfoto ria di depan tulisan NEW SELO. Perjalanan diawal dengan ladang penduduk, menanjak, kombinasi debu dan kerikil kecil. Kemudian kami melewati gerbang Masuk Gunung Merapi. Istirahat sejenak. Lanjut lagi. Makin ke atas, makin menanjak, berbatu. Kemudian ada pertigaan. Belok ke kanan merupakan jalur evakuasi. Jalur ke kiri merupakan jalur alternatif. perbedaannya, jalur alternatif lebih banyak landainya dan dominasi tanah. Jalur evakuasi cukup curam, donimasi batu-batu. 
Kondisi Perjalanan Awal

Gerbang Pendakian Merapi
Pos 1
Pos 1 dilewati, masih lanjut lagi, waktu semakin malam, angin kencang, kabut turun begitu tebal. menjelang pos 2, jalur makin sempit, kanan dan kiri adalah bebatuan yang cukup curam, mungkin cocok disebut sebagai jurang. Rencana kami akan menginap di Pasar Bubrah. Namun, sepertinya tidak memungkinkan, kabut tebal, ber-20 orang, beberapa kondisinya tidak fit, jalur sempit. Akhirnya kami memutuskan untuk camp setelah pos 2, sebelum batas vegetasi habis. Saat itu, waktu menunjukkan jam 7-an malam, kabut tebal, angin cukup kencang, hujan rintik.
Berhubung tempat camp yang sempit, kami membagi menjadi 2 kelompok. Jarak kami berdekatan. Saya di kelompok yang bawah. Spontan kami memasak air untuk menghangatkan badan, memasak lauk untuk makan malam. Menu malam itu adalah ayam goreng, hum yummy. Tenda juga segera didirikan untuk berganti pakaian karena pakaian yang basah tidak baik digunakan untuk tidur. Mengapa? karena bisa masuk angin atau demam, bahkan bisa membuat hipotermia. Dua tenda telah didirikan, flysheet juga dipasangkan di atas dua tenda tersebut. Setelah selesai, kami makan malam bersama meski sudah pada kenyang karena menggado lontong dan lauk sewaktu memasak. Selesai makan, kami tidur. Waktu menunjukkan pukul 9.30-an malam. Tidak lama tidur, hujan mulai deras dan berlanjut sampai lebih dari pukul 3 pagi. Beberapa tenda kami bocor dan basah. Barang dan orang diungsikan ke tenda yang tidak bocor.
Awalnya kami akan berangkat pukul 3 pagi untuk summit attack. Cuaca masih hujan deras, kabut tebal, angin berhembus kencang, beberapa dari kami juga tidak fit. Akhirnya, kami mengurungkan niat untuk ke puncak. Pagi menjelang, matahari bersinar, kabut masih tebal, suhu udara tentu dingin. Baru pukul 5 pagi lewat, kami mulai keluar tenda, menikmati segarnya udara pagi Merapi. Mulailah kami beraktivitas, ada yang nyemak, ada yang masak. Menu pagi ini adalah menu baru bagi kami yaitu Soto Ayam, hehe. Rasanya nikmat, dibuat tanpa micin, disajikan selagi hangat, para kokinya hebat deh, hehe.
Hari sudah mulai terang, kabut perlahan bergeser, puncak Merapi terkadang terlihat dari tempat Camp. Sayangnya kami hanya dapat menikmati dari kejauhan. Namun, kami tak berkecil hati, kami masih bisa berfoto-ria di atas batu besar dengan background puncak Merapi. Ini agak maksa sih tapi setidaknya itu cukup membuat kami bahagia. Toh bahagia tidak diukur dari actual = planning. Padahal ini semacam menghibur diri, hehe. Akan tetapi, hal penting yang kami sadari adalah bahwa manusia boleh merencanakan tetapi Allah-lah yang menentukan #sokbijak, hehe. Banyak kawan pendaki lain yang melewati kami untuk summit attack, kami hanya bisa mendoakan mereka sampai puncak dengan selamat dan kembali ke Base Camp dengan selamat pula. Kami memiliki constraint waktu, jam 1 siang harus sudah sampai Base Camp New Selo untuk selanjutnya menuju Semarang selama 4 jam. Oleh karena itu, kami tidak dapat melanjutkan ke puncak. Jika memaksakan diri, kemungkinan besar kami tidak dapat mengejar jadwal kereta. Pelajaran yang saya ambil disini adalah kesabaran dan kebersamaan, mungkin kami tidak dapat mencapai puncak Merapi saat ini tetapi kami yakin suatu saat kami dapat mencapai puncak Merapi bersama-sama. Milad AADT tetaplah berkesan selama perjalanan ini, meskipun kami lelah, kami tetap senang, kami bertemu kawan baru, kami memiliki cerita baru, kami memiliki permainan baru, dan yang terpenting adalah kami semakin yakin bahwa ciptaan-Nya sungguhlah luar biasa indah, tak tertandingi.
Puncak Merapi Tertutup Kabut
Kereta kami dijadwalkan pukul 19.33. Kami sampai Semarang sekitar jam 6 sore. Waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk bersih-bersih, sholat dan makan malam. Kami tak sempat membeli oleh-oleh. Selain kami juga nanti kerepotan membawanya. Tunggu punya tunggu, kereta kami telat lagi. Pukul 8 malam kereta kami tiba, segera kami naik dan mengatur barang bawaan yang super banyak #lebay. Kereta berangkat, obral-obrol sana-sini, sebagian mata telah terpejam, sebagian lain antusias dengan Bapak Sang Peramal, beberapa mengisengi kawannya, ada yang jeprat-jepret kamera. Kereta semakin melaju, tubuh kami pun semakin lelah, mata terpejam. Kami tidur di kereta menuju kota Jakarta. Selamat datang kembali di Kota yang keras! dan Selamat Milad AADT, Semoga makin kece membadai dan makin dekat dengan Tuhan! Aamiin :)

September 25, 2013

Kau Angin

Semula aku sangka kau gelombang
tapi setiap kali aku renangi
Kau menggasing bagai angin
Peluh membuncah dan ruh dan tubuh gelisah
adalah ibadah bagi cinta tak berjamah
Di situ, kunikmati teduhmu
sesekali sebelum kau berhembus pergi

Aku buru suara seruling di jauhan
yang kutemukan dedahan bergesekan
Aku termangu tertipu gerakmu
sehening batu di keadalaman rinduku

Kini aku tahu, tak perlu memburumu
Kau hidup di dalam dan di luar diriku
Tak berjarak namun terasa jauh
Teramat dekat namun tak tersentuh

Jika benar kaulah angin itu
semauku akan kuhirup kamu
Dalam jantung yang berdegup
kau gairah baru bagi hidup
Mengalirlah darah, mengalirlah
dalam urat nadi cintaku
karenamu, kekasihku!

-Sitok Srengenge-

September 22, 2013

Wisuda Merbabu: Streeessss bet siii!


Tiga minggu lalu, untuk kesekian kalinya saya bersama kawan-kawan AADT (Arung Alam Dekati Tuhan) mencoba mendekatkan diri pada Tuhan. Kali ini kami mencoba mendaki gunung Merbabu. Merbabu terletak di propinsi Jawa Tengah, tepatnya di perbatasan kabupaten Magelang, Boyolali, Salatiga dan Semarang. Posisi Merbabu cukup strategis untuk mendapatkan pemandangan gunung-gunung lain. Sebelah selatan ada Merapi, sebelah timur ada Lawu, sebelah utara ada Ungaran, dan sebelah barat terlihat Sumbing, Sindoro dan Sikunir. Sebenarnya di sebelah barat pun seharusnya terlihat Slamet tetapi kemarin tidak terlihat atau memang sayanya yang ngga ngeh. Hehe.
Merbabu memiliki beberapa puncak. Puncak paling tinggi adalah puncak Kentheng Songo, tingginya 3142 mdpl. Puncak lainnya yaitu puncak syarif, tingginya 3119 mdpl. Untuk menuju puncak ada 3 jalur yang bisa dipilih yaitu jalur Selo, jalur Wekas, dan jalur Kopeng. Kami memilih jalur Wekas karena waktu tempuh yang lebih pendek dan lokasi yang lebih dekat dari Semarang. Kebetulan kami menggunakan KA Tawang Jaya yang tujuan akhirnya stasiun Semarang Poncol. Sebagai gambaran, berikut catatan perjalanan yang coba kami buat:
---
Jum’at, 13 September 2013
22.10 – 05.16           Perjalanan dari stasiun Pasar Senen – stasiun Semarang Poncol menggunakan KA Tawang Jaya. Kereta terlambat, kami tiba di Poncol pukul 06.45
Sabtu, 14 September 2013
06.45 – 09.00           Sarapan pagi dan lain-lain
09.00 – 12.00           Perjalanan dari stasiun Semarang Poncol – base camp Wekas menggunakan truk
12.00 – 13.00           Istirahat, sholat, makan, repacking
13.00 – 17.30           Base camp Wekas – Pos 2
17.30 – 04.00           Istirahat, pasang tenda, makan, ngobrol, tilawah, api unggun, masak, nyemak, dll.
Ahad, 15 September 2013
04.00 – 08.20           Pos 2 – Puncak Kentheng Songo
08.20 – 09.00           Puncak Kentheng Songo. Foto-foto. Menikmati keindahan alam dan merenungi ciptaan Tuhan
09.00 – 11.00           Puncak Kentheng Songo – Pos 2
11.00 – 13.00           Istirahat, sholat, makan, bongkar tenda, packing
13.00 – 14.20           Pos 2 – base camp Wekas
14.20 – 15.15           Istirahat, bersih-bersih, sholat, packing
15.15 – 18.30           Perjalanan dari base camp Wekas – stasiun Semarang Poncol
18.30 – 20.00           Makan, sholat, bersih-bersih, beli minum & makanan kecil
20.00 – 04.00           Perjalanan dari stasiun Semarang Poncol – stasiun Jatinegara menggunakan KA Kertajaya. Seharunya kereta berangkat pukul 19.33, sampai 02.53
---
Base camp Wekas – Pos 2
Perjalanan dari base camp Wekas ke pos 2 cukup melelahkan, maklum beberapa dari kami masih kurang persiapan fisik bahkan mungkin ada yang tidak tetapi ngaku-nya sudah lari, lari dari kenyataan atau lari-lari dalam mimpi *emotstraightface. Ya, jadi 4,5 jam baru sampai pos 2, sudah menjelang maghrib pastinya. Kondisi pos 2 ini lumayan luas, bisa muat lebih dari dua puluhan tenda (semoga engga lebay). Selain itu, terdapat sumber air. Ya! Air sangat penting buat kami para pendaki gunung, tanpanya kami kehausan dan kelaparan. Semakin sadar bahwa air sangat vital bagi keseharian. Sayangnya kadang masih ada orang yang boros menggunakan air contoh berwudhu dengan kran dibuka full padahal dengan dibuka setengah saja, itu sudah cukup untuk berwudhu.
Medan menuju pos 2 rata-rata sekitar 45 derajat. Bah! Ini angka darimana, memang agak-agak kirologi sih. Jalan setapaknya berdebu, bukan pake aja melainkan pake banget. Esoknya pas turun ke bawah dan sampai depok, baru sadar kotoran hidung-nya menghitam *iyeeuhhh. Itu artinya medannya memang sangat berdebu. Perlu diingat, naiknya bulan September, medan berdebu, jangan lupa bawa masker. Sepanjang jalan, pohon-pohonan masih banyak bertengger, terkadang panas, terkadang bisa ngadem. Saat mulai naik, cuaca masih mendung, adem dong. Terus 30 – 60 menit berlalu matahari mulai nongol, *jeng-jeng lupa make sun screen/sun block. Sisa olean sun screen di Semarang udah kebasuh sama air wudhu untuk sholat dzuhur – ashar. Yah! Nasib.

Kode SOS Palsu
Ada kejadian menarik waktu pendakian kemarin. Intinya adalah ada orang yang teriak minta tolong (sembari menyalakan lampu senter kedap-kedip ke arah pos 2) dan minta dibawain air ke atas (mungkin sekitar pos pemancar). Kami yang ada di pos 2 panik karena ada juga laporan dari orang yang baru turun bahwa ada rombongan yang collaps. Koordinasi dengan berbagai rombongan dilakukan, logistik disiapkan, alat resque sederhana juga dipersiapkan. Jumlah tim resque 6 atau 7 orang (saya lupa). Perjalanan sekitar 2 jam. Sampai di pos pemancar, ternyata kami dibohongi. Rombongan yang ditemui di sekitar pos pemancar tidak mengaku berteriak minta tolong, bahkan malah membuat kesal. Sungguh sangat disayangkan perilaku tersebut. Helloww, gunung bukan tempat untuk ngerjain orang karena taruhannya bisa nyawa. Akhirnya, tim resque turun ke pos 2 dengan tangan hampa dan mungkin rasa kesal. Bagi saya, ini jadi pelajaran penting bahwa siapapun tidak boleh sembarangan menggunakan kode SOS atau memohon bantuan jika memang tidak terjadi apa-apa. Kejadian seperti ini justru bisa membuat sebagian orang anti-pati terhadap kode SOS. Orang yang sudah pernah atau menyaksikan temannya dibohongi mungkin akan tidak peduli jika ada kode SOS lagi di perjalanan berikutnya. Padahal mungkin kode SOS tersebut memang benar-benar keadaan kritis. Ya, semoga tidak demikian dan semoga mereka yang mengerjai diberikan kesadaran, aamiin.

Menuju Puncak Kentheng Songo
Kami bangun pukul 03.15. Suhu udara tak mau kompromi. Di luar tenda tentu lebih dingin. Rencana kami semalam, mulai summit attack pukul 04.00, agak siang memang karena target kami hanya sampai pos pemancar. Pakaian double, jaket double, kupluk, sarung tangan (gloves), kaus kaki double, sepatu, headlamp/senter, syal, tetapi udara masih aja menusuk. Tidak semua dari kami ikut summit attack, ada 3 orang yang menunggu tenda karena kondisi fisik tidak memungkinkan. Di perjalanan menuju pos pemancar juga 1 orang diantar kembali ke pos 2 karena kadar oksigen pagi hari masih tipis, kekurangan oksigen bagi sebagian orang cukup mengganggu pernapasan.
Sampai di pertigaan menuju pos pemancar (ke kiri) – puncak (ke kanan) sekitar pukul 06.20. Dengan agak sedikit memaksa kami menuju puncak. Jalanan berbatu, sedikit datar. Sebelah kiri jurang, mendatar lagi, naik terjal agak merangkak. Sampailah di pos helipad. Kondisi kanan kiri masih jurang, memang kami melewati punggung bukit. Orang lebih sering menyebut jalur tersebut sebagai jembatan setan karena kanan kiri-nya jurang. Kemudian, kadang datar, nanjak dikit, turun dikit, berbatu, berdebu. Lengkap sekali medan Merbabu ini. Menjelang pertigaan pertemuan jalur Wekas – Kopeng, medan sangat curam. Setapak demi setapak, sebelah kiri jurang, dalam, kalau jatuh ya wassalam. Sampai di pertigaan, ambil ke kanan. Di depan kami terlihat puncak syarif. Di posisi ini, kami sudah cukup dapat pemadangan Sindoro, Sumbing, Sikunir dan Lawu. Merapi belum terlihat. Sampai disini saya sudah ketar-ketir khawatir waktu ngga kekejar. Beberapa dari kami sudah di depan menuju puncak Kentheng Songo, beberapa mencukupkan diri disini. Dari posisi ini menuju Kentheng Songo, mendatar, sebelah kiri jurang sekitar 60 – 70 derajat (lagi-lagi kirologi), naik dikit, turun dikit, berbatu, kalau berpapasan salah satu harus berhenti karena kalau tidak bisa tergelincir ke jurang. Menjelang puncak, medan-nya sangat wah. Terjal, berbatu, berdebu! Perlu sedikit merangkak, pegangan kuat, berdekatan dengan yang lain untuk mengulurkan tangan (bagi sesama jenis). Fiuh, tanjakan terakhir adalah tanah tebal berdebu. Akhirnya, sampai juga di puncak Kentheng Songo pukul 08.20.
Di puncak, ritual dimulai. Cekrak, cekrik, hup, cheese, itu suara-suara yang keluar saat mau diambil gambar. Alhamdulillah cuaca cerah, matahari terik, angin sepoi-sepoi, kadang kabut menutupi Merapi. Pemandangan sungguh exotis. Dari sini, terlihat Merapi, jelas, elegan! Selama 40 menit, kami berfoto ria dengan berbagai gaya, membuat tulisan, foto dengan spanduk, dst. Lelah? Pasti. Namun, di puncak gunung, semuanya terbayar. Serius. Turun pukul 09.00, agak setengah berlari tetapi tetap berhati-hati. Sampai di pos 2 pukul 11.00, alhamdulillah.
---
Biaya perjalanan kali ini cukup hemat, cocok untuk ukuran mahasiswa meskipun empot-empotan juga. Hehe. Harga tiket KA Tawang Jaya sebesar Rp 45.000, KA Kertajaya Rp. 50.000. Sementara transportasi dari Semarang ke Wekas, kami menggunakan truk. What! Truk? Yap betul truk yang biasa buat ngangkut pasir, sayur-mayur, sapi, kambing, dst. Jadilah kami ber-25 sapi yang dipanggang panasnya matahari. Tentunya sebelum naik truk kami ribet-ribet memakai sun screen, sun block, after sun, dan sun-sun yang lain, supaya warna kulit tidak menghitam, hehe. Kami menyewa truk pulang – pergi tetapi truk tidak menginap. Biaya sewanya lebih murah Rp 400.000 dari harga normal. Kebetulan salah satu rombongan kami memiliki teman di Semarang, jadi saya meminta tolong beliau untuk mencarikan kendaraan. Enak tho punya banyak teman? Tapi jangan sampai sepragmatis itu ya dalam berteman. Itu bisa jadi disebut sebagai tingkatan teman paling rendah, yang hanya ingin mengambil manfatnya saja. Namun, saya percaya setiap kalian tidaklah demikian. Lanjut, untuk uang logistik saya alokasikan Rp 100.000. Itu mencakup sewa alat, beli gas, parafin, bahan makanan, biaya masuk kawasan Merbabu, P3K, dll. Jumlah 25 orang cukup membuat berbagi biaya tetapi mengkoordinasikan pendakian dengan jumlah segitu juga cukup melelahkan, hehe *lebay.
Mungkin sebagian orang membayangkan mendaki gunung merupakan perjalanan memprihatinkan (meski sebenarnya iya, hehe, kalau tidak dipersiapkan dengan baik). Jika dipersiapkan dengan baik makan semuanya akan senang-senang saja. Contoh: kami bisa makan ayam goreng di gunung. Buat yang mbah Gunung alias orang yang sering naik gunung, mungkin itu biasa. Bagi AADT luar biasa karena baru kali ini menunya ayam goreng, hehe. Itu tidak terlepas dari koki yang handal. Oia, jago masak di rumah belum tentu jago masak di gunung lho. Ternyata suhu udara cukup berpengaruh. Jadi, bagi yang pinter masak jangan sombong kalo bisa masak di gunung, coba buktikan dulu. Selain ayam goreng, ada sayur sop, tumis sayur. Sebenernya kami juga udah bawa bahan untuk masak brokoli cheese melt (eh bener ngga nih namanya *emotkeringetsatubiji) tapi karena cheese-nya ngga melt-melt meski sudah dicoba beribu cara, akhirnya mission failed. Mungkin cheese-nya bisa melt kalo liat cowok ganteng yak, hehehe. Kami juga bawa lauk siap saji, sebut saja ikan bilih danau kerinci campur kacang, hmm yummy (tapi ga sempet makan juga sik L). Ada juga dendeng kering srundeng tapi ini udah duluan abis di base camp Wekas, bersama lontong, hehe. Ya, intinya sangat menyenangkan perjalanan mendaki gunung bersama AADT, selalu ceria, dzikir tetep jalan karena ada ustadz-nya, makanan enak, minuman juga sehat, cemilan lengkap, alat dokumentasi lengkap, biaya terjangkau*, hehe (*relatif tergantung status, buat yang udah kerja lumayan terjangkau, buat yang masih mahasiswa atau baru lulus, yaa lumayan empot-empotan, hehe).

Ada dua hal lagi yang kelupa. Pertama, mendaki Merbabu ini sebenarnya buat merayakan wisuda beberapa anggota AADT (tentunya juga mendekatkan diri pada Tuhan) tapi yang buat krik-krik adalah toga udah dibawa sampai pos 2 tapi lupa dibawa ke puncak. Alhasil, ndak ada foto bertoga di perjalanan kali ini, sedih bener yang udah bela-belain bawa toga. Yasudahlah, yang penting perjalanan lancar dan kembali ke rumah dengan selamat, it’s enough i think :). Kedua, setiap perjalanan, AADT selalu memiliki jargon. Kali ini jargonnya adalah Streeessss bet siii! ini dipatenkan dari celetukan salah satu anggota AADT. Sepanjang perjalanan, setiap diledekin maka muncul celetukan yang ada kata-kata stresss-nya, mungkin memang stres beneran, hehe. Kalau stres beneran malah saya tidak khawatir karena Merbabu dekat dengan Magelang dimana terdapat Rumah Sakit Jiwa :p. Menjelang turun dari pos 2 ke base camp Wekas, kami tak lupa meneriakkan jargon. Wisuda Merbabu!!! Streeessss bet siii!!!

-Berikut spoiler foto-fotonya-
Pemandangan Gunung Lawu
Tanjakan Terjal
Tanjakan Terjal
Tanjakan Terjal
Tanda Menuju Puncak
Pemandangan Gunung Merapi
Pemandangan Gunung Sumbing - Sindoro - Sikunir (3S)
Jembatan Setan
Puncak Syarif dan Puncak Kentheng Songo
Ai dan Merapi
Rekind Adventure Community di Merbabu
Pos Pemancar
Ai and 3S
The Team

Agustus 07, 2013

Ramadhan

Kau benar-benar telah pergi
Tak menoleh ke belakang, sama sekali

Mungkin salahku
Yang pura-pura senang dengan hadirmu
Yang hanya memberikan separuh hati padamu
Yang belum memanfaatkan waktumu dengan baik

Sudahlah. Aku pun harus pergi
Bersiap menghadapi terik mentari
Bertarung pertahankan ikrarku
Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi yang lain

Aku berdoa dalam sepiku, untuk aku dan kamu
Semoga kita berjodoh, bertemu kembali
Dalam cita dan cinta yang sama
Mereguk manisnya iman, islam dan ihsan

Selamat tinggal ramadhan!
Semoga kita diizinkan bertemu kembali! Aamiin

Agustus 02, 2013

Mudik

Masa-masa menjelang hari raya idul fitri adalah masa-masa yang dinanti bagi sebagian manusia yang mengejar asa di tempat yang jauh dari rumah. Suatu kegembiraan jika libur tiba, para pengejar asa bersiap-siap untuk kembali ke titik mula, berkumpul bersama keluarga, mengenang masa kecil, berkumpul dengan kawan lama, dst. Terutama mereka yang jarang pulang ke kampung halaman.

Moda transportasi siap mengantarkan ke tempat tujuan. Kementerian perhubungan menjadi lembaga yang paling sibuk. Mereka bertugas mengatur jalannya mudik agar aman dan tertib, tentu bekerjasama dengan lembaga lain misalnya kepolisian yang menyiagakan personilnya di penjuru fasilitas umum seperti stasiun, terminal bus, bandara, pelabuhan, jalan protokol, dst. Perusahaan otomotif juga tak mau kalah dengan membuka rest area untuk cek kondisi kendaraan. Tenaga medis juga disiagakan diberbagai belahan wilayah apabila terjadi kecelakaan. Produk obat-obatan sebagai upaya marketing juga disebar ke berbagai wilayah. Penyedia jasa operator telepon seluler juga standby untuk memperlancar komunikasi dengan promosi yang menggiurkan. Media pun tak mau kalah, mereka menggembor-gemborkan di televisi: menyoroti kemacetan, jalan rusak, lakalantas, tanah longsor dan lain-lain, yang ditayangkan berhari-hari dari H-7 sampai H+7. Stasiun radio pun tak luput. Hingga jadilah hajatan besar tahunan yang bernama mudik ini. Peristiwa luar biasa yang hanya terjadi di Indonesia.

Pemudik adalah raja, sepertinya itu bukan sebutan yang berlebihan. Beberapa waktu lalu, dibuka pendaftaran mudik bersama  dari kementerian perhubungan bagi mereka yang ingin mudik menggunakan roda dua. Pemudik roda dua ini akan diangkut menggunakan bus, sedangkan roda duanya diangkut menggunakan truk. Banyak juga perusahaan yang mengadakan program mudik bareng secara gratis. Bagi yang awam mudik, pusat informasi disediakan di banyak tempat. Petugas keamanan siap siaga untuk memperlancar mudik. Polisi lalu lintas 24 jam membantu mengatur lalu lintas. Dan masih banyak lagi hal-hal yang memudahkan pemudik. Ada kemudahan, ada kesulitan. Satu hal yang pasti, harga tiket moda transportasi melangit dan ketersediaannya terbatas. Disini hukum ekonomi berlaku, banyak peminat tiket maka harga naik. Harga makin naik menjelang hari H, kalau tidak dipesan jauh-jauh hari maka siap-siap saja merogoh kocek lebih dalam tetapi secara rate harganya paling maksimal dalam setahun. Tiket juga juga seolah menjadi barang langka contoh tiket kereta api jarak jauh sudah hampir habis di H-90 meski ada beberapa kursi tambahan. Yang kasihan adalah mereka yang tidak update berita sehingga harus mengalah untuk memilih moda lain seperti bus, yang konsekuensinya adalah terkena macet jika tidak mengatur jadwal pulang. Berbicara macet, pembahasannya panjang lebar, volume kendaraan yang melonjak, kondisi jalan, serta ketertiban pengguna jalan. Menurut saya, terlampau kompleks meski menurut saya kuncinya adalah pada ketertiban penggunaan #cmiiw.

Setiap orang memiliki kesan tersendiri tentang mudik. Ada yang menganggap sebuah keharusan karena merasa ada yang kurang kalau tidak mudik. Ada juga merasa biasa saja, mungkin karena sudah sering. Bahkan mungkin ada yang kesal karena selalu berhadapan dengan kemacetan. Bagi saya, mudik memiliki kesan tersendiri, yaitu sebagai sarana untuk introspeksi diri dan silaturahim. Mengingat perjalanan ke kebumen sekitar +/- 12 jam menggunakan bus antar propinsi, saya sering menjadikan momen tersebut untuk introspeksi diri. Selain itu, perjalanan jauh enak dipakai untuk melejitkan imajinasi, ini bagus untuk menginovasikan kegiatan sehari-hari. Kadang ide muncul selama perjalanan mudik. Kaitan aktivitas sekarang dan dulu saat di kampung halaman juga membenturkan otak, kadang berfikir, "oh sudah sejauh ini" yang pasti selalu bersyukur. Sampai di rumah, ada hal yang berubah, tempat, orang, dll. Perlu memutar otak lagi untuk mengingat2 nama orang, nama tempat, jalan menuju ke suatu tempat. Ya alakulihal ngga pikun-pikun amat. Senang bisa bertemu lagi dengan sodara, teman. Saling sapa, tanya kabar, berbagi cerita, atau sekadar untuk nongkrong bareng, ngobrol ngalor ngidul, tawa-tiwi, mengenang masa-masa bocah, difikir-fikir lucu, dudul, kocak, sebel, dst. Pada akhirnya saya bersyukur masih bisa dikasih kesempatan mudik, ini semacam saran untuk merefresh kembali apa yang sudah digapai dan apa yang harus dilakukan.

Selamat mudik kawan! :)
Selamat merasakan kembali kehangatan keluarga
Selamat mengenang kembali masa lalu

02.08.13 - Bus menuju Kebumen

Juli 10, 2013

Tiga Doa Malaikat Jibril yang Diamini Rasulullah saw

Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah naik ke atas mimbar, kemudian beliau berkata :
"Amin..amin. .amin..".

Kemudian ditanyakan (para sahabat), kepada beliau :
"Wahai Rasulullah, saat Engkau naik ke atas mimbar, Engkau sampai mengatakan Amin (3x) (ada apakah gerangan?)"

Kemudian Rasulullah memberikan keterangan sbb:

"Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan : "Barang siapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa) , kemudian dia tidak mendapatkan pengAMPUNan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah :Amin" Kemudian aku meng aminkannya.

"Dan barang siapa yang mendapatkan orang tuanya (ketika keduanya masih hidup), atau salah satu diantara kedua orang tuanya masih hidup, sementara (dia mampu berbuat baik untuk kedua atau salah satu diantara keduanya), kemudian dia tak mau berbuat baik kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya (yang masih hidup tadi), kemudian mati, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka aku katakan :Amin"

"Dan barang siapa yang dimana namaku disebutkan (didepannya) , kemudian dia tak memberikan shalawat kepadaku, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka katakanlah (wahai Muhammad SAW) (amin), maka aku katakan "Amin"

(H.R Ibnu Hibban didalam kitab shahihnya 3:188)

-Repost dari Akun Facebook Alhabib Islamic Web Service-

Mari perbaiki kualitas diri agar kita tidak termasuk dalam ketiga golongan tersebut, aamiin.

Juni 01, 2013

Konfirmasi

Kita sebagai manusia yang hidup dan bersosialisasi tentu pernah membuat janji, menghadiri seminar, mengerjakan tugas, terlibat kegiatan sosial, nonton, jalan, naik gunung, main futsal dan seterusnya. Saya boleh katakan juga kesemua kegiatan itu ada waktu yang disepakati misal "mengerjakan tugas" hari selasa, 28 Mei 2013, pukul 10 di Perpustakaan Pusat UI; "Seminar pranikah" hari Ahad, 30 Feb 2010 pukul 8 - 12 di Aula FISIP UI; "main futsal" hari Ahad, 1 Juni 2013 pukul 20 di Liverpool Futsal, Margonda; "Naik Gunung" kumpul hari jumat, 26 April 2013 pukul 18 di kapuk, margonda. Setiap kegiatan tentu juga ada orang-orang yang terlibat alias stakeholder, mungkin sebagai ketua kelompok, PJ Acara, peserta, ketua perjalanan, pemateri, dst. Dari sekian banyak faktor kesuksesan kegiatan, salah satu poinnya adalah kehadiran si stakeholder. Contoh, apabila semua pemateri seminar pranikah tidak jadi hadir maka bisa dipastikan acara kacau balau, syukur-syukur ada plan B dari panitia jadi acara cukup kacau aja ngga pake banget. Kalo batal itu juga bikin peserta jadi galau karena gajadi dapet materi. Hehe.
Umumnya ada aktivitas yang mendahului sebelum aktivitas "hadir" yaitu konfirmasi. Dalam sebuah kegiatan, konfirmasi sangat penting karena akan berkaitan dengan jalannya acara. Dalam sebuah seminar, PJ acara punya kewajiban untuk mengkonfirm pemateri atau menginfokan dalam poster bahwa peserta yang ingin ikut harus konfirmasi ke nomor yang tercantum. Konfirmasi disini akan menentukan langkah panitia berikutnya. Jika pemateri tiba-tiba tidak bisa hadir maka panitia akan mencari penggantinya mungkin atas rekomendasi calon pemateri sebelumnya. Jika peserta yang konfirm lebih banyak dari perkiraan maka panitia akan menyiapkan konsumsi atau souvenir lebih atau kalau yang konfirm lebih sedikit maka panitia akan mengurangi untuk menghemat biaya. Nah! Mulai terbayang kan pentingnya sebuah konfirmasi. Contoh lain, sebuah kelompok kerja mendadak ingin mengerjakan tugas di waktu dan tempat yang disepakati karena deadline tugas sudah mepet, ternyata 2/3 anggota tidak dapat hadir tetapi tidak mengkonfirmasi ke ketua kelompok. Alhasil, batal. Namun, bukan hanya sekedar batal, bisa jadi ada anggota yang hadir tetapi sebenarnya dia punya acara lain sehingga dua-duanya batal, sungguh kasihan bukan? Contoh lain, sebuah acara besar yang mengundang banyak pembicara, di awal panitia sudah menghubungi pembicara A secara informal, waktu berjalan berbagai publikasi sudah disebar ke segala penjuru termasuk socmed, di social media ramai sekali, banyak yang ingin hadir karena si pembicara A tersebut. Akan tetapi, sampai hari H panitia tak kunjung menghubunginya lagi. Di satu sisi, sebagai pembicara A pasti kebingungan apakah jadi mengundang dia apa ngga. Ya alhasil pembicara A tersebut tidak hadir dan mereka yang terlanjur hadir kecewa karena si pembicara A tidak jadi hadir. Disini bisa dilihat, dampak dari tidak konfirmasi. Belum lagi kalau pembicara A sudah menolak acara lain di hari dan jam yang sama. Menurut saya itu fatal dan tidak boleh terjadi lagi.
Baiklah, jadi, melakukan konfirmasi itu penting. Meskipun itu adalah sebuah hal kecil lagi remeh-temeh tetapi memiliki dampak yang luas. Siapapun stakeholdernya, acara apapun, apapun peran kita, harus kita patri dalam diri bahwa konfirmasi itu penting. Saya pun pernah tidak konfirmasi dan saya menyesali hal itu. Maaf untuk siapapun yang pernah tidak saya konfirmasi, kedepan saya usahakan untuk selalu konfirmasi.
Menurut saya, konfirmasi juga merupakan bentuk usaha kita untuk memudahkan urusan saudara kita dan tahukah kalian bahwa apabila kita mempermudah urusan saudara kita di dunia, maka Allah akan mempermudah urusan kita di akhirat. Subhanallah. Sekian tulisan singkat dan acak adul saya, semoga bermanfaat.

Kita tidak dapat merasakan kenikmatan beribadah sebanyak apapun jumlah ibadah kita, sampai kita meninggalkan perbuatan maksiat.

Mei 01, 2013

Masa kecil tidak dapat kita tentukan tetapi masa depan dapat kita tentukan
-9 summers 10 autumns-

April 07, 2013

Kebumen

Di kota ini aku kembali ke alam
Kota kecil yang indah nan asri
Gunung menjulang, pantai berdesir, sungai berkelok, pepohonan melambai, sawah tersenyum renyah

Di kota ini aku mengenal mimpi
Mimpi menjadi orang besar
Tak sekedar besar tapi bermanfaat

Di kota ini aku mengenal guru sepanjang masa
Teladan luar biasa, disegani
Aku ingin menjadi ia meski tak sama

Di kota ini aku mengenal sahabat
Oh indahnya kebersamaan
Berjuang melawan tantangan zaman

Di kota ini aku mengenal cinta
Cinta setengah jiwa
Lapuk dimakan waktu

Tujuh tahun lamanya
Kiranya waktu yang cukup untuk bersiap
Menerjang kerasnya ibu kota

Kotaku menyimpan banyak kenangan
Tak akan cukup goresan pena di atas kertas
Hanya hati ini yang dapat menerjemahkan enkripsi itu

Sekarang
Aku jauh dari kotaku, lima ratus kilometer lebih
Namun, separuh jiwaku masih disana, sengaja ku tinggal agar aku dapat menengoknya sewaktu-waktu

--
Kutojaya Utara
07 April 2013, 20.35 WIB

Maret 23, 2013

Tentang Cinta

Cinta itu hubungan timbal balik antara manusia dan Sang Khalik.
Manusia mencintai Sang Khalik, sebaliknya Sang Khalik mencintai manusia tersebut.
Dua orang manusia atau lebih yang sama-sama mencintai Sang Khalik maka Sang Khalik akan mengizinkan mereka untuk saling mencintai.
Cinta tersebut akan tetap teguh selama mereka mencintai Sang Khalik.
Jika terjadi sesuatu dengan cinta antar manusia maka yang perlu diperhatikan ialah bagaimana cinta si manusia kepada Sang Khalik, bukan bagaimana cinta si manusia kepada manusia.
Wahai manusia pencinta, ketahuilah bahwa apabila kalian ingin Sang Khalik meneguhkan cinta kalian kepada manusia maka cinta kalian kepada Sang Khalik harus lebih besar daripada cinta kalian kepada manusia.

--
Didedikasikan untuk Manusia Pencinta
Depok, 24 Maret 2013, 02.34 WIB

Maret 20, 2013

Angkutan Kota (Angkot)

Sumber : duniainformation.blogspot.com

Aku takjub!
Kau ibarat panglima perang. Selalu berada di garda terdepan saat jam berangkat dan pulang kantor.
Kau ibarat penari balet. Pandai meliak-liuk di tengah keramaian kendaraan bermotor. Sisi sebelah kiri merupakan favoritmu.
Kau ibarat pria idaman wanita. Selalu sabar menunggu di depan gang-gang ibukota.
Kau ibarat candu. Banyak yang rela menaikimu meski seperti sarden kalengan. Aku salah satu sarden itu.
Kau ibarat pembalap F1. Melaju kencang, tak mau berada di belakang.

Aku salut!
Kau memobilisasi ribuan orang setiap harinya.
Kau mengantarkan langgananmu hingga pinggiran ibukota.
Kau tak malu dengan tampangmu yang pas-pasan.
Kau menjangkau kaum proletar.

Tapi, tahukah kau bahwa
Aku sebal padamu karena perilakumu,
Yang suka berhenti sembarangan menaik-turunkan pelangganmu.
Yang hobi ngetem di pertigaan, stasiun, terminal, gang, dan tempat strategis lainnya.
Yang seringkali ugal-ugalan saat menari-nari di aspal-beton panas.
Yang seringkali mengabaikan papan berwarna hijau, putih, merah, kuning.
Memang aku juga menyadari bahwa ini bukan sepenuhnya salahmu,
Kau dikejar setoran tiap harinya. Terlebih lagi kau harus bergantian.
Pemangku kebijakan kadangkala tidak memperhatikanmu. Tidak ada pembatasan jumlah kendaaraan pribadi, jalan berlubang disana-sini, halte tidak diremajakan.
Pelangganmu juga seenaknya sendiri. Menunggu di sembarang tempat padahal sudah tersedia halte. Menyeberang tidak di zebra cross atau jembatan penyeberangan.
Kau harus membagi sedikit jalan untuk kendaraan yang parkir di pinggir jalan.
  
Lantas bagaimana?
Aku tak bisa menghentikanmu. Itu hakmu sebagai Warga Negara Indonesia.
Lagipula, kau punya tanggungan di rumahmu dan rumah orang tuamu.
Aku hanya bisa berpesan, perbaiki perilakumu.
Agar anak-anakmu mudah menuntut ilmu, tumbuh dewasa, cerdas dan memiliki masa depan gemilang.
Agar istrimu cantik dan patuh padamu.
Agar orang tuamu sayang dan bangga padamu.
Agar orang-orang disekitarmu menghargaimu.
Kuacungi dua jempol jika kau mampu melakukannya.
Ku tambahkan dua jempol pinjaman temanku jika kau menjadi panutan bagi yang lain untuk memperbaiki perilakunya.

--
Pinggiran Jakarta, 16 Maret 2013, 15.18 WIB.

Maret 14, 2013

Aku mohon Tuhan


Apakah rasa ini, Tuhan?
Amat membuncah, memenuhi seisi dada.
Dalamnya tak terjangkau otakku.
Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Aku tak dapat membedakannya, Tuhan.
Apakah ini bahagia atau kesedihan.
Di relung hatiku tersemayam kesedihan karena takut melupakan-Mu.
Tapi tak dapat ku pungkiri bahwa aku pun menikmatinya, aku bahagia. Banyak pelajaran disana.

Aku mohon Tuhan, aku mohon, aku mohon.
Ampuni kami jika kami khilaf, baik sengaja maupun tidak.
Dekaplah kami dalam dekapan-Mu, agar di hati dan fikiran kami selalu ada Engkau.
Tuntunlah kami dalam tuntunan-Mu, agar setiap langkah kami, hanyalah karena Engkau.

--
Alam Fana, 14 Maret 2013, 00.37 WIB